dari Bellevue menuju Ruf Ruful A’la di langit ke tujuh

Suaminya Riana wrote:


dari Bellevue menuju Ruf Ruful A’la di langit ke tujuh

Pejamkan mata. Saya akan mengajak anda ke perjalanan yang indah di malam 23 Ramadan.

Ya. Hari ini saya memberanikan diri berangkat ke mesjid Bellevue untuk mengadu nasib dan mengadu peruntungan, bersaing dengan teman-teman semua untuk mendapatkan Parcel terindah tahun ini.

Persiapan.

Sejak sore, konferensi bilateral telah terjadi antara saya dan istri tentang bagaimana prosedur pemberangkatan kabilah itikaf yang berisi saya sendiri. Apakah dari kampus langsung ke Bellevue atau pulang dulu. Dengan pertimbangan praktis, bahwa lebih enak, ekonomis dan nyaman kalau saya buka di rumah, akhirnya saya pulang dulu. Meskipun masih ada jala-jala dan renda-renda keinginan istri biar saya itikaf di rumah saja.

Dari halte Kapellplatsen depan kampus menyusuri jalan kota (kok sepi ya..udah GR malam ini adalah malam yang ditunggu berjuta manusia, malaikat, jin dan semua ciptannya).

Sampai di rumah, alhamdulillah, hidangan buka sudah tersaji manis. Ayam jamur yang amat lezat. Amat lezatnya, saking lezatnya, kita lupa bahwa sebagian harta tersebut harus dibagi untuk sahur. Bukan apa-apa, menimbulkan kegaduhan di malam di mana orang sini tidur rasanya masih agak sungkan (Ini bahasa halus juga untuk mengatakan “kita harus ngirit nih critanya”)

(Dalam hati masih ada nada-nada curiga) Istri menyarankan saya tidur aja dulu nanti dibangunkan. Secara (ini bahasa gaulnya Jakarta sekitar 1-2 tahun lalu yang artinya “considering that”) kita ini pasangan badakwan dan badakwati yang amat sangat sulit bangun, saya agak curiga dengan tawaran itu. Tapi ya sudahlah. Secara, saya juga capek kuliah, plus “udah mulai berani mendebat dosen (akhirnya berani juga)” yang tadi siang membikin spanneng. Kenapa “berani juga”, karena sebelumnya minder ngeliat anak master yang inggrisnya British banget, sementara kita agak2 karangsono atau Talok-style (bukan tagalok lho ya!)

Pemberangkatan

Alhamdulillah tepat jam 11.15, istri membangunkan, dengan bekal nasi sudah siap. Istri melepas saya ke mesjid. Dalam dingin, menyururi trotoar Trollasvagen yang sepi. (ingat pesan mas Abram, sesepuh mahasiswa disini : makin malam kamu naik public transport, duduk dekat sopir). Alhamdulillah, bis datang tepat pada waktunya (Subhanallah, andaikan malam ini lailatul qodr, andaikan memang saya dapat pahala berlipat, saya berikan sebagian sebagia pahala itu dengan seikhlas2nya buat pak sopir bis yang sangat amanah, tidak memakan hak penumpang barang 1 detik pun +menyambut dengan senyum walapun saya satu2nya penumpang dan saya tahu dia sudah amat sangat capek mengingat ini adalah trip terakhir).

Ya Allah yang bertahta di Ruf Ruful A’la, aku berdoa untuk pak sopir dan keluarganya di rumah. Sungguh hanya engkau yang maha adil.

Saya menyambung naik trem ke Bellevue. Suasananya sedikit lebih ramai, walaupun gak banyak juga. Lumayan dapat baca Quran beberapa ruku di jalan. Memang sulit mengkondisikan Ramadan di negeri orang. Yang biasa saya lakukan adalah, mencoba membaca Qur’an dan membayangkan saat-saat dulu ketika saya berada di Bis Mandala jurusan Malang-Blitar, dan sebentar lagi sampai rumah di mana Bu Soh sudah menyiapkan bubur ketela yang keras. Dan segera setelah saya menyelesaikan beberapa ruku dan harus turun, saya sadar saya masih di Swedia ketika melihat penumpang lain di trem: tidak ada rona kekhawatiran harga sembako naik. Ya, ini orang Swedia nampaknya..

Menikmati (NG)Ampel

Rasanya udah hampir 5 tahun saya tidak ke Ngampel. Biasanya, Bu Shoh (bagi pembaca yang menanyakan siapa “Bu Shoh”, Bu Shoh ini seorang ibu yang adalah ibu saya. Di lain edisi kita juga akan kedatangan tamu
“Bu Aay” yaitu Ibu mertua saya yang tak lain ibu shohibul blog
) sudah menyiapkan begitu banyak “orang-orang, ulama-ulama, dewi-dewi, siti-siti” yang harus dikirim fatikhah. Diantaranya yang selalu sangat saya ingat adalah Ibu Dewi Siti Manila (atau Dewi Manila atau Siti Manila, kakak saya mungkin nanti akan memberikan koreksi). Beliau adalah tokoh penting dalam pergerakan Islam dan da’wah nya.

Back to Bellevue. Bellevue ini nama daerah yang mayoritas penduduknya imigran Turki dan Afrika. Mesjid B (begitu selanjutnya kita sebut) sebelumnya adalah gudang atau took yang dirombak menjadi mesjid.
Kapasitasnya mungkin setara al falah di Taman Manggu, atau mesjid Vila Bintaro Regency. Bedanya, di sini tertutup rapat.

Dalam masjid ternyata sudah banyak sekali jamaah. Khusu membaca qur’an, qiyamul lail, atau sekedar diskusi agama. Tiba waktunya sholat tahajud jamaah, semua orang maju ke depan.

Subhanallah…

Pejamkan mata…

Nikmati bacaan si Imam…

I guess you are in Ngampel? Or Istiqlal?

Or somewhere else di Jakarta..

Begitu merdu. Menjadi makin merdu karena, pintu mesjid dibiarkan terbuka, sehingga angin dingin autumn ikut masuk berjamaah dengan kita. Dengan bacaan yang panjang (ternyata bacaannya satu jus). Dan imam yang muda-muda.

Ya mujibas Sailin, Ya! Saya berada di Negara-nya Karl Gustaf! Bukan di mesjidnya Gus Munib atau Pak Musyahid…Tapi benar kata Paman istri saya (Om Wawan), di mana itu Bumi Allah, maka Allah akan tetapkan Rahmat, maka rahmat itu akan turun.

Saat waktu Sahur tiba, saya buka bekal saya, dengan perasaan campur aduk. Berada di tengah orang yang benar-benar baru..

Ya Allah terima kasih untuk semua Rahmat Mu.Ya Arkhamar Rokhimin.. Duhai pemilik dunia akhirat. Pemilik Arsy yang agung

Dari dinginnya Bellevue, andaikan malam ini adalah malam Qodr dan sungguhpun bukan malam Qodr, saya titipkan kedaiaman untuk kami semua, kesejahteraan, umur yang barokah, rezki yang halal, anak yang sholeh, bangsa yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur, semua masalah Kau mudahkan, semua Penyakit kau angkat, dan mudahkan kami mencari ilmu, ilmu yang bermanfaat dan maslahat..

..jangan lupa pula Engkau perintahkan Roqib dan Atid untuk bersinggah ke rumah bapak sopir bis, taburkan rahmah dan barokah, apapun agamanya..

Hari 23 Ramadan

3 thoughts on “dari Bellevue menuju Ruf Ruful A’la di langit ke tujuh

  1. KISAH MAHASISWA BANGLADESH DENGAN KOTAK MAKANANNYA

    Nah..saya mau nyambung cerita lucu nih…(mumpung lagi break kuliah 🙂

    Kemarin ceritanya kita lagi ada International Ifthat (jadi buka puasa untuk mahasiswa muslim Chalmers.Knp disebut international ifthar? Karena beda dengan ifthar biasanya (di Chalmers ada 2 kali seminggu kurang lebih)…ini makanan bawa sendiri2 (jadi ada Pita Bosnia, ada Nasi Goreng Indonesia, ada Martabak (istriku nih), ada kacang polong-an dsb)…..pokoknya beraneka rupa…

    Nah saya berangkat bareng, namanya SANAD, mahasiswa Usbekistan yang gak PD datang karena gak bawa makanan, + Mr X sebut saja begitu (keran dia jd tokoh utama) dari Bangladesh. Mr X ini talkative banget, kayak Indra Bekti (dsb) gitu gayanya. Oh ya, lain waktu saya akan cerita tentang sanad (kenapa sih mesti dikasih huruf capital)..tapi nanti aja…Plus kalau saya masih boleh jadi kontrubutor Blog ini (naga2nya mau di black list :P)

    Mr X ini sebenrnya baik..tapi gak tau kenapa, kondisi berubah setelah gerombolan mahasiswa bangladesh lain datang. Karena sebelumnya kita udah semeja, ketika gerombolan Bangladeshi datang saya gak beranjak…

    Nah tiap kali saya nanya, selalu diacuhkan..padahal dia ngliat wajah saya. Jadi dia memprioritaskan temen-temen nya, meskipun dari interval waktu saya duluan yang nanya. such as dialog berikut:
    Mr X : So you take your PhD degree here
    Ibra : Yes, I take…… (diserobot..)
    Bangladesh1: mihe-mohe yahai hite…
    Mr X : aje aje mihe….
    (loh..dia tadi nanya apa gimana sih…??)

    Ganti *oh mungkin aku yang mesti nanya duluan *

    Ibra : So you guys you come from Bangladesh, dont’ you
    Banglaseh 2 : niye niye
    Mr X : yeyeyeyeye (padahal sambil ngliat saya)

    Halah ya udah lah..saya pindah meja aja..(tapi gak gondok kok..)

    Cerita disingkat…

    Pas acara buka selesai, mulailah si MrX membuat sedikit keributan
    X: “You know my box (food), I brought here two boxes” ditanyain ke semua yang papasan sama dia…

    Papasan saya lagi
    X: “You see my box…” (perasaan td udah nanya dah mungkin dia lupa..soalnya dia muter2, ngorak2 arik tempat sampah, dsb)

    Jadilah semua (gak semua sih) mbantuin nyari…yang lebih ngeselin, tutpnya box ada..:)))

    Kasian juga

    akhirnya saya tanyain

    I: “SO you have found it”
    X: “No not yet, it sometimes happened when we have ifthar together in Bangladesh”
    sambil wajahnnya melas

    Hehehehe
    ya udah

    Ied Mubarrak everybody

    Like

  2. subhanallah indah sekali… sebuah pengalaman yang istimewa dibungkus dalam penuturan yang mencerahkan. bahkan saat membacanyapun aku seakan dibawa terbang untuk kunjungi kanton-kantong rahmah Allah di sana.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H, Jafar Shadiq mengucapkan mohon maaf lahir batin

    Like

  3. coba deh suami lo disuruh nulis novel aja. Gaya bertuturnya populer banget di Indonesia. I love it.
    Atau bikin buku religi yang bisa dibaca santai, seperti bukunya Shofwan Al-Banna “Ramadhan is Dead”. Atau, mungkin bisa bikin versi korespondensi dari Buku Andre Moller “Ramadhan di Jawa”. Cocok lah, Pak Moller kan Swedish yang ke Jogja buat belajar Bahasa Indonesia (dan Islam), sementara kalian Indonesian yang ke Svenska untuk mencari wajah Allah di belahan dunia lainnya.
    Siapa tahu bisa jadi penghasilan tambahan buat mengimpor bahan makanan kalian dari Indonesia. Hehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s