Cerita Haji: Dua Lengkung yang Berbeda Kisah

“Subhanallaah! Laa ila ha illallaah!” seorang asykar di Masjid Nabawi menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menyipit, melirik saya tajam dari balik niqab yang ia kenakan.

‘Habis sudah!’ pikir saya. Tubuh saya mendadak lemas.

Sang asykar menemukan kamera pocket yang saya sembunyikan dengan rapi di dalam kotak tissue…

Saat itu adalah hari terakhir saya di Madinah, dan saya belum berhasil menuntaskan misi yang sudah saya susun sebelumnya.

***

Berhaji dari Spanyol, artinya kami memiliki waktu yang terbatas. Total rangkaian ibadah dijadwalkan selama 22 hari dengan 18 hari diantaranya dihabiskan di Makkah. Jangan harap dapat melaksanakan ibadah arba’in di Nabawi, karena waktu bersih di Madinah saja hanya 3 hari lamanya.

Karena itulah, waktu di Madinah harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Termasuk menyusun strategi untuk bisa masuk ke dalam Raudhah, yang saya tak pernah menyangka begitu dahsyat sensasinya…

Tapi memang, ada rasa yang berbeda yang menyambut saya di kota ini. Bahkan sejak gulir roda bus membawa rombongan kami membelah bukit dan padang gersang sepanjang Makkah menuju Madinah.

Madinah adalah selaksa rasa dalam relung kalbu, dengan Nabawi yang menjadi sumbu rotasinya… Allaahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad! :’)

***

Jauh sebelum saya melihat megahnya masjid Nabawi, beberapa kali saya “dicolek” orang akan kemiripan masjid itu dengan ‘masjid’ lain yang ceritanya saya tulis beberapa kali.

Masjid itu ialah ‘Masjid’ Cordoba.

Bangunan yang pondasi awalnya merupakan kuil bagi para penganut kristen visigoth pada tahun 600. Lalu terbagi menjadi separuh Masjid dan separuh Gereja pada tahun 710, hingga kemudian bertransformasi dalam luas, fungsi, dan kemegahan. Bangunan tersebut kemudian berubah sepenuhnya menjadi masjid sejak tahun 784-1236, lalu kembali menjadi Gereja pada tahun 1236 dengan nama Katedral Mezquita de Cordoba hingga saat ini.

Masjid paling megah pertama yang dibangun di daratan Eropa.

Masjid yang kemegahannya saat itu hanya berada di bawah Masjid Al Haram dan Masjid Al Aqsa.

Masjid yang dibangun dengan era yang sama ketika Borobodur dibangun di Indonesia, yang memiliki detail arsitektur luar biasa dengan jutaan mozaik marmer, granit, dan onyx.

Masjid yang pada zamannya bukan hanya sekedar tempat beribadah. Tapi merupakan jantung peradaban di kota Cordoba, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di kawasan mediterania.

Sungguh, kejayaan Cordoba saat itu adalah masa emas di benua biru. Kotanya yang maju, mengalahkan kemasyhuran Konstantinopel pada masanya. Sektor pertaniannya terdepan di Eropa, dengan sistem irigasi yang sangat modern.

“Cordoba is the New York City of 9th and 10th century,” begitu National Geographic mengibaratkannya di masa lalu. Pemikir dan ilmuwan hebat dunia seperti Averroes (Ibnu Rusydi), Abulcasis (Abu al Qasim), terlahir di sini. Di tempat yang dulu, agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah terpisahkan. Cordoba, dengan jumlah penduduk 500.000 orang saat itu, memiliki masjid sejumlah 3000 banyaknya. Diimbangi dengan akses sekolah gratis dan perpustakaan yang menyebar di seluruh penjuru kota.

Karena nun berabad yang lalu… Selasar masjid dipenuhi jamaah yang tidak hanya mencari kegemilangan akhirat, tapi juga kejayaan dunia…

Maka menapak masuk ke dalamnya selalu menerbitkan syahdu.

Jika membaca sejarahnya dulu ketika di bangku sekolah saja rasanya sudah luar biasa, apalah lagi dengan melihat sendiri sisa kejayaannya yang pernah ada.

Baca selengkapnya di: Mezquita, Menapak Jejak Islam yang Tersisa di Negara Spanyol

***

Dua tahun berselang, dan tibalah saya di Masjid Nabawi…

Jatuh cinta, mungkin itu yang bisa menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali menapak Masjid Rasulullah. Keindahan dan pesonanya tak terbantahkan dalam kesaksian jutaan muslim

Dulu, saya pikir, desain ‘Masjid’ Cordoba lah yang mengikuti Masjid Nabawi… Selain karena usianya yang lebih muda, juga ditambah dengan kenyataan bahwa saat itu, saya memang belum pernah berkunjung ke Madinah.

Lalu kemudian Allah mentakdirkan saya untuk melihatnya secara langsung.

Hati saya pun bergetar. Bukan hanya karena pesona Masjid Nabawi yang tak terelakkan. Tapi karena pikiran saya, mau tak mau, membandingkan sosoknya dengan ‘Masjid’ Cordoba… Nun jauh di tempat asal saya berangkat ke tanah haram.

Ini lah Masjid Nabawi, Masjid Rasullah di masa kini. Betapa harunya ketika saya melihat lengkung pilar-pilar penyangga yang ada di dalam masjid. Lengkungan tapal kuda, dengan marmer dan granit yang berselang-seling adalah lengkungan yang nyaris sama seperti yang saya lihat di benua yang berbeda sebelumnya! Suasana syahdu yang saya alami ketika menapak ‘Masjid’ Cordoba, mendadak terulang kembali di tempat saya bersimpuh saat itu di Masjid Rasulullah.

Raga saya di Madinah, tapi untuk beberapa saat jiwa saya terbang melintas rentangan jarak ke benua biru. Begini lah rupanya lengkungan selang-seling itu di masa jayanya dulu 8 abad yang lalu. Bayangan para mukmin dan muslim yang bersujud berulang-ulang di bawah pilar-pilarnya, seakan terwujud nyata di Masjid Nabawi….

Sudah berkali-kali saya mencoba mencari tahu latar belakang apa yang mendasari dibuatnya desain perluasan Masjid Nabawi sedemikian mirip dengan ‘Masjid’ Cordoba, tapi tak kunjung juga saya dapatkan jawabnya.

Lengkungan tapal kuda berselang-seling di Masjid Nabawi memang baru dibangun ketika masa perluasan besar-besaran di bawah Raja Arab Saudi, Abdul Aziz alu Su’ud pada tahun 1372-1375 H atau tahun 1950an Masehi. Mungkinkah kesamaan desain ini sebagai pengingat bahwa sejatinya urusan dunia dan akhirat harus selaras adanya? Bahwa di belahan bumi yang lain, ada lengkung lain yang berupa sama tapi berbeda nasib.

Dalam sejarah manapun, tidak ada ceritanya Islam dan umat Muslim berjaya tanpa keseimbangan yang kuat antara dunia dan akhirat. Kegemilangan dunia dan penghambaan diri kepada Allah adalah dua hal yang saling terkait. Sesuatu yang akhirnya luput dan meruntuhkan peradaban Islam dari Eropa 7 abad yang lalu….

***

Lirikan mata sang asykar yang tajam lalu memaksa saya untuk membalik tubuh menjauhi Masjid Nabawi. Harusnya tak sesulit itu, tapi kamera HP saya yang rusak memaksa saya untuk menyelundupkan kamera pocket ke dalam Masjid Nabawi.

“Ya Allah, sungguh, saya tidak ingin mengambil gambar diri di dalam Masjid Rasul-Mu. Tapi izinkan saya untuk mengambil gambar lengkung itu dengan tangan saya sendiri… Izinkan saya untuk mampu menjadikannya pelajaran hidup….

Saya ambil jalan memutar dan mencoba memasuki Masjid Nabawi dari pintu yang lain. Jika memang Allah ridho, maka pasti ada jalan sebelum adzan keburu bergema dan pintu-pintu masjid menutup, pikir saya. Bismillah, dan masuk lah saya di pintu yang lain dengan kamera pocket di dalam tas!

Pada akhirnya, foto ini pun berhasil saya ambil…. Menyusul foto lengkung lain yang sudah saya miliki sebelumnya. Sebagai pengingat bagi saya, bahwa sungguh Allah telah memberikan saya rezeki untuk bisa bernaung di bawah lengkung-lengkung yang berbeda nasib ini pada suatu waktu. Dan semoga saya bisa menjadi manusia yang mampu menarik hikmah-Nya dalam setiap peristiwa….

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Masjid Nabawi yang tak pernah sepi…

SAM_2249.JPG

Lengkung di Tanah Rasulullah

Lengkung di Benua Biru

Akhir Agustus 2016,
Ditulis di tanah yang sama dengan lengkung yang satu, diselesaikan di tanah yang jauh dari kedua-dua lengkung.

3 thoughts on “Cerita Haji: Dua Lengkung yang Berbeda Kisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s