Kolaborasi antara suami dan istri!

latar belakang pendidikan saya dan suami sebenarnya bisa dibilang deket nggak deket. walaupun ceritanya gelar S1 saya Sarjana Teknik, tapi dibandingkan dengan temen-temen yang teknik beneran, saya merasa kalo saya ini masih kurang teknik *hadah, kalimatnya muter-muter. malah kadang lebih deket ke latar belakang suami yang orang ekonomi. sebagai reminder, boleh lah kita ulas sedikit tentang jurusan saya yang unik ini hehehe. saya pernah cerita disini sebelumnya. atau saya kutip lagi deh..,

saya lulus S1 dari ITB, jurusannya planologi alias perencanaan wilayah dan kota yang katanya master of something about everything. alias belajar banyak hal tapi sedikit2. mulai dari TPB (alias tahapan persiapan bersama/tingkat 1), saya masih belajar kimia, kalkulus, dan fisika. trus tingkat 2 sedikit belajar geologi alias struktur tanah dan bebatuan (nah lho!), ditambah perpetaan, juga statistik dan MAP (lebih advance dari statistik) –> sejujurnya saya mulai kangen belajar ini :P gak lupa teori perencanaan itu sendiri, studio wilayah dan kota (yang keluarannya RTRW! cihuy!) juga teori ekonomi pembangunan, sedikit ilmu hukum dan administrasi pemerintahan, dan akhirnya belajar GIS/Geographical Information System (yg mana ayah saya ahlinya hehe) dan studio yang mulai gambar (pake komputer) dan bikin maket. hebat kan! ;)

kiblat dari jurusan planologi di Indonesia ini adalah negara belanda. kata planologi pun berasal dari bahasa Belanda. jadi, kalo mau dibandingkan, urban planning di Swedia dan urban planning di Indonesia ini sebenernya agak sedikit beda. terutama karena urban planning disini lebih ke arah arsitektur atau teknikal, sementara urban planning di Indonesua konteksnya luas sekali. bisa masuk ke urban design itu sendiri, public policy, economic and development, atau statistical modelling misalnya. waktu saya kuliah S1 dulu, saya paling seneng belajar statistik dan MAP yang ujung-ujungnya menghasilkan karya masterpiece *ehm! wkwkwk* tugas akhir tentang modelling transportasi. software yang saya pake pun software-nya anak ekonomi.

oke, cukup, intronya kayanya kepanjangan hehe. balik ke judul posting kali ini, proses mengerjakan tugas akhir saya ketika S1 adalah salah satu bentuk kolaborasi kami sebagai suami istri (tentunya selain mencuci piring, mencuci baju, beres-beres dan bersih-bersih rumah, dan juga reproduksi hehehehe :P). lebih tepatnya kolaborasi kedua secara akademis *switswiiiiiww*, karena kolaborasi pertama adalah master thesis milik suami saya haha. kenapa bisa berkolaborasi? ya karena itu tadi yang sudah dijelaskan di intro, latar belakang pendidikan saya dan suami sedikit-sedikit bersinggungan. seiring waktu, ketika saya S2 dan suami S3, kolaborasi “akademis” ini sudah makin jarang kami lakukan. mungkin karena jurusan S2 saya lebih ng-Arsitek dibanding waktu S1, jadi suami rada-rada kurang bisa membantu wkwkwk. paling banter, suami ngoreksi bahasa inggris di paper saya. pernah saya ditawari untuk beresin daftar pustaka-nya pak suami, dengan iming-iming bayaran sekian. jawaban saya? “gak mauuuu! ngapain ih, orang duitmu duitku juga.. gak perlu minta juga aku bisa gesek sendiri” =)) tapi akhirnya saya kerjain sih, maklum istri sholehah hakshakshaks.

singkat cerita, berangkat dari keseringan saya yang komentar (doang) tentang ruwetnya Jakarta dan gimana cara nyari solusinya, pak suami nyuruh saya untuk bikin rough tulisan untuk dikirimkan ke Jakarta Post (berhubung dia pernah nulis beberapa kali disana). terus dia bilang, “nanti aku jadi co-author deh, pokoknya kamu tulis aja dulu”. akhirnya sebulan yang lalu, mulai lah saya nulis opini untuk Jakarta Post. sejam di depan laptop, tulisan baru jadi 3 paragraf, dan saya ngerasa tulisan saya lompat-lompat. begitu dikasih ke suami, malah diketawain. hadeeehh *emang sih, banyak yang gak nyambung hahaha. oke, project kolaborasi Jakarta Post akhirnya resmi ditutup, karena saya males ngelanjutinnya wkwkwkw.

teamwork

nah sebenarnya, masih ada project besar tentang kolaborasi kami selanjutnya *pssttt.. rahasia dong*. kali ini terkait dengan project non-akademik *tapi bukan “mencuci piring, mencuci baju, beres-beres dan bersih-bersih rumah, ataupun reproduksi lhoo*. setelah ikutan workshop menulis bersama Asma Nadia, naluri untuk menulis saya mulai bangkit lagi. dulu jaman kuliah cerpen saya pernah dimuat di majalah Kawanku lho. lumayan, tahun 2005 honornya 250.000 heheheh 😀 nah, si project besar ini sebenernya promising banget.. andaikan saya gak melulu kejebak dengan rasa males hiks hiks. targetnya sih, selesai sebelum si adik lahir… mudah-mudahan bisa deh. yosh!!

sementara itu, ngeliat rame-rame banjir di Jakarta, jadi keinget lagi tulisan Jakarta Post yang mandek. belum bisa bantu apa-apa, belum bisa kontribusi apa-apa, semoga semuanya segera membaik dan berakhir tanpa harus berulang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s