Cerita Haji: Romantisme Jumrah dan “Tragedi” Arafah-Muzdalifah – Part 2

Wajah Hasan, pimpinan Travel kami mengeras.

Bolak-balik ia menggelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya.

“Tapi bagaimana dengan nasib kami? Bagaimana kalau kami, yang laki-laki dan tidak punya keringanan harus ketinggalan mabit di Muzdalifah? Ini waktunya tinggal sedikit lagi!” seorang jamaah keturunan Maroko yang sejak tadi mewakili para jamaah laki-laki muda memprotes Hasan.

“Kalian tanggung jawabku, percaya padaku. Insya Allah kita akan sampai di Muzdalifah,” kata Hasan.

Sekelompok jamaah laki-laki itu, meski masih berselimut gelisah, lalu mengurungkan niatnya berjalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah. Bagaimanapun mereka harus menghindari perdebatan. Mereka sedang dalam masa berihram!

Jamaah-jamaah laki-laki itu lalu memutuskan menunggu kembali ke tenda khusus laki-laki, yang terpisah dari tenda perempuan. Dan diantara jamaah laki-laki yang akhirnya membatalkan niatnya berjalan kaki itu, ada suami saya.


Sebelumnya, di: Cerita Haji: Romantisme Jumrah dan “Tragedi” Arafah-Muzdalifah – Part 1


“Ibrahim, istrimu sudah ada di dalam bus?” kata Mr. Sweety, anak sekaligus asisten Hasan dalam mengelola rombongan haji dari Spanyol.

“Paling ada sama ibu-ibu di belakang itu, kan dari tadi juga dia bersama mereka di dalam tenda perempuan,” jawab suami saya.

“Pastikan dulu,” tegas Hasan ikut urun bicara dan menyuruh suami saya.

Satu persatu suami saya lalu menelusuri wajah-wajah jamaah wanita di bagian belakang bus. Tapi berkali-kali ia bolak-balik memastikan, tak kunjung ditemukannya juga sosok istrinya di sana.

“Buuu!! Buuuu!!” ia pun mulai panik dan memanggil-manggil saya. Kasak-kusuk suara jamaah ibu-ibu mulai terdengar, “Bukannya istrinya yang sedang hamil itu ya? Ya Allah…”

Tergopoh-gopoh suami saya melapor pada Hasan, “Istriku nggak ada!!”

“Coba kamu telepon istrimu,” Hasan masih tenang mendengar laporan suami saya.

“Tapi ini HP nya aku bawa!” wajah suami saya sudah mulai tidak karuan.

Seketika reaksi Hasan pun berubah, “Astaghfirullah! Sweety, tolong bilang supir busnya untuk jangan berangkat dulu! Kita harus mencari istrinya Ibrahim!”

Maka ketiga laki-laki itu lalu kembali menyusuri tenda-tenda Arafah yang sudah berselimut gelap karena ditinggalkan jamaah. Rombongan Spanyol adalah kelompok terakhir yang masih tertahan di sana. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 2.

Pontang-panting suami saya menelisik setiap sudut Arafah. Mengecek semua toilet yang ada dengan lampu-lampu yang semuanya sudah tak bisa dinyalakan. Barangkali istrinya yang sedang hamil kelelahan lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Beberapa kali seberkas keyakinan muncul dalam dirinya. Menguatkan hatinya. Ia kenal betul istrinya yang tidak mudah takut, walau lebih bisa dibilang nekat. Berpetualang sendirian, atau berkeliling hanya dengan bayi di negara-negara asing lain pernah dilakukannya.

Tapi tiap kali keyakinan itu datang, kekhawatiran langsung datang menggilas tanpa ampun. Ini sudah sangat malam dan istrinya sedang hamil! Bayang-bayang gadis-gadis kecil mereka di Spanyol yang berusia 4 tahun dan 2 tahun pun menari-nari di matanya.

“Buuu!! Buuuu!!

“Rianaa!! Rianaaa!”

Suara ketiga laki-laki itu bersahut-sahutan mencari saya di penjuru Arafah. Suara yang hanya berbalas hening dalam kegelapan yang pekat.

“Ibrahim, kita tidak bisa lebih lama lagi bertahan di sini. Waktu mabit akan segera habis,” Hasan akhirnya harus mengambil keputusan. Ia merangkul suami saya dan menepuk-nepuk punggungnya.

Suami saya hanya membisu.

“Kita doakan untuk keselamatan istrimu, insya Allah dia akan baik-baik saja,” kata Hasan lagi.

Lalu berangkatlah bus itu melaju membawa jamaah ke Muzdalifah.

Pak, Mah. Mohon doanya, Riana hilang.

Sebaris pesan singkat pun suami saya kirimkan ke grup whatsapp keluarga. Mengabarkan kakek-nenek yang sedang menjaga anak-anak kami, cucu-cucu mereka, di Spanyol.

Pesan terkirim.

Bayang-bayang berkabut di matanya pun tak bisa suami saya tutupi lagi.

Malam itu dengan skenario Allah, ada dua bus berbeda melaju menuju Muzdalifah, yang masing-masing berjalan dengan kegundahan.


“Tu marido! Kasihan sekali!,” seorang nenek, jamaah lansia dari kelompok kami itu masih berbicara pada saya.

“Iya, tapi suamiku kenapa? Ada apa?” jawab saya lagi.

“Dia mencari-carimu tadi malam. Kasihan sekali, kami sampai tidak tega melihatnya. Dia begitu panik dan sedih,” wajah nenek itu ikut menyiratkan kesedihan saat menceritakan kondisi suami saya tadi malam.

Saya pun bingung luar biasa mendengarnya. Bagaimana bisa? Bukankah dia yang justru sudah berangkat duluan ke Muzdalifah?


Selepas mabit di Muzdalifah, suami saya langsung berangkat menuju Jamarat bersama yang lain. ‘Bagaimanapun ibadah harus tetap berjalan tuntas’, begitu suami saya bolak-balik menenangkan hatinya.

Sepanjang perjalanan, tiap kali ia bertemu dengan jamaah Indonesia yang terlihat sepuh, maka ia akan mengejarnya.

“Pak, mohon doanya, istri saya hilang,” begitu suami saya memintakan doa sambil mengecup tangan para sepuh itu. Dan biasanya, istri si Kakek yang ada di sampingnya akan mengelus dada tanda terkejut dan prihatin mendengarnya, “Ya Allah, sabar ya nak…”

Meski dalam kegundahan hati, Allah yang Maha Baik melancarkan ibadah suami saya. Maka jumrah pun tunai ia laksanakan.

Dalam perjalanan pulang dari jamarat, suami saya lalu melapor ke posko Indonesia di Mina.

“Istrinya kloter berapa? Embarkasi dari mana?” kata petugas yang menemui suami saya.

“Kami berangkat dari Spanyol, Pak…”

Ahh, tentu saja karena kami tidak terdaftar sebagai jamaah haji yang berangkat dari Indonesia, maka mereka tidak bisa membantu lebih banyak.

Semua cara yang sekiranya bisa suami saya lakukan, sudah ia coba. Maka ia pun memutuskan kembali ke tenda kami di Mina.


Saya masih termangu-mangu mencoba mencerna apa yang terjadi. Jadi, siapa yang sebenarnya ditinggal dan meninggalkan?

Sampai beberapa saat kemudian, bayangan sesosok laki-laki yang sangat saya kenal sudah berada di luar pintu tenda kami. Itu suami saya!

Tapi rasanya…. ada yang berbeda. Ya, laki-laki kesayangan saya itu sudah mencukur habis rambutnya!

Segumpal bening tertahan di ujung mata saya, “Mas sudah selesai jumrah ya…,” hanya itu yang pertama kali bisa keluar dari mulut saya.

Gumpalan itu pun akhirnya meluruh. Lega, bahagia, juga sedih bercampur satu. Lega karena akhirnya saya bisa bertemu suami saya. Bahagia karena ia sudah menuntaskan jumrahnya. Tapi juga sedih karena ia harus menuntaskan itu tanpa saya. Kami kehilangan momen mabit bersama, kami kehilangan momen jumrah bersama, dan masa ihramnya selesai tanpa ada saya di sisinya.

“Kamu kemana?” tanyanya. Wajah cemasnya kali itu sudah lebih didominasi jengkel.

“Kan Mas yang ninggalin aku duluan, jadi begitu ada yang ngajak berangkat ke Muzdalifah ya aku kira memang sudah saatnya rombongan yang tertinggal di Arafah berangkat!” saya tersedu sambil menahan sesak.

Ya Allah, inilah cobaan yang sesungguhnya. Sedikiiitt lagi masa ihram itu selesai, hanya sedikit lagi untuk saya. Tapi sesak di dalam dada terasa ingin mendobrak melalui luncuran kata-kata. Sungguh, saat itu adalah saat yang paling berat bagi saya. Jika sampai pertengkaran keluar, maka saya telah melakukan sesuatu yang dilarang ketika berihram!

Saya memandang suami saya. Terlihat benar kalau ia juga berusaha menahan sesuatu.

“Aku belum jumrah.. Mas udah jumrah duluan…” saya masih terisak.

Suami saya menghela nafas, “Kamu belum selesai berihram, stop nangisnya ya. Semoga Allah menerima ibadah kita. Kamu siap-siap, aku balik lagi ke Jamarat antar kamu.”

Dan tanpa kami sadari, sesuatu telah terjadi di terowongan Mina pagi itu.


— bersambung ke:

Romantisme Jumrah dan “Tragedi” Arafah – Muzdalifah – Part 3 (selesai)

8 thoughts on “Cerita Haji: Romantisme Jumrah dan “Tragedi” Arafah-Muzdalifah – Part 2

  1. Bacanya ikut deg2an mbak daku, Ya Allah.. Kebayang banget pas nahan rasa yg membuncah di dada pas akhirnya ketemu suami, masya Allah.. Ditunggu mbak kelanjutan ceritanyaa. Seruu!

    Like

  2. MasyaAllah tabarakallaah…
    Ikut terbawa ceritanya, jadi berasa ngalami sendiri… Ikut cemas, ikut deg2an, ikut takut, ikut jengkel, ikut bahagia…
    Gus ibra n mba Riana sama sama keren pengalaman dan cara nulisnya…

    Like

  3. Pingback: Romantisme Jumrah dan “Tragedi” Arafah – Muzdalifah – Part 3 (Selesai) | Keluarga Ibrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s