Cerita Haji: Berhaji Legal dari Luar Negeri, Apa Bedanya?

Tak terasa, setahun lamanya perjalanan kami ke tanah suci telah berlalu…. Masih terbayang jelas rasanya rangkaian perjalanan kami saat itu. Tidak berlebihan rasanya, kalau saya bilang bahwa pengalaman haji di tiap orang pasti akan membawa kesan hingga seumur hidupnya. Kalau lagi mellow begitu, kadang suami suka ngomong,

“Bu, coba kamu bayangin deh.. Berjuta-juta orang dipanggil sama Allah. Berjuta orang banyaknya! Tapi ternyata dari jutaan orang itu, udah bukan giliran kita lagi…”

:’)

Alhamdulillaah, tak henti-hentinya kami bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan pada kami untuk menjadi tamu-Nya, meski tidak berangkat dari negeri sendiri. Pada posting kali ini, saya ingin berbagi tentang pengalaman berhaji dari luar negeri, khususnya dari Spanyol (dan negara-negara minoritas Muslim) beserta perbedaannya dengan Indonesia.

Kenapa membahas perbedaannya? Karena sebagai jamaah WNI yang tidak berada dalam sistem Haji (dalam hal ini haji reguler) dari Indonesia, saya bisa melihat sendiri secara fair sesuatu yang mungkin ada kalanya luput dari penglihatan masyarakat kita 🙂

  1. Bagaimana bisa berangkat?
    Bagi WNI, untuk bisa berangkat haji dari LN pada umumnya tidak sulit. Asalkan, kita memiliki izin tinggal (residence permit) yang resmi di negara yang kita tinggali saat itu. Izin tinggal ini bisa karena kita bekerja ataupun kuliah. Jadi, tidak cukup hanya menggunakan visa kunjungan biasa.Dengan adanya izin tinggal, maka secara resmi kita sudah tercatat dalam registrasi kependudukan di negara tersebut. Dan karenanya, kita berhak untuk mengajukan visa haji di negara yang kita tinggali. Sebenarnya bukan hanya visa haji saja yang bisa kita ajukan, tapi juga visa-visa ke negara lain. Intinya, pengajuan visa secara umum di seluruh negara, harus dilakukan dari negara tempat kita tinggal.RP.jpgMeskipun begitu, pada beberapa negara pemberlakuan kriteria ini cukup ketat. Di Singapura misalnya, memiliki izin tinggal di sana saja tidak lah cukup. Warga non Singapura harus memiliki izin tinggal permanen (permanent residence) untuk bisa mendaftar haji dari sana.
    .
  2. Antrian
    Di Spanyol, dan umumnya di negara-negara dengan penduduk muslim minoritas, kita bisa berangkat haji tanpa harus mengantri. Hal ini dikarenakan kuota haji yang diberlakukan oleh pemerintah Saudi adalah sama besar untuk seluruh negara: yaitu satu per mil* dari jumlah TOTAL populasi penduduk (*dengan dikurangi 20% saat ini karena adanya perluasan Masjidil Haram).
    .
    Bayangkan saja, Spanyol dengan 46 juta penduduk misalnya, memiliki jatah sebanyak 46.000 (36.800 setelah dipotong 20%) orang. Padahal, jamaah haji yang berangkat tiap tahunnya hanya berkisar antara 100-150 orang. Bandingkan dengan kuota Indonesia yang saat ini 160.000-170.ooo sedangkan yang mendaftar jutaan.group_318-110209Lain halnya jika negara luar yang dimaksud juga negara dengan berpenduduk muslim banyak/negara muslim. Di Malaysia dan Maroko misalnya, kondisinya pun sudah mengantri seperti di Indonesia.
    .
  3. Lama Ibadah
    Jika jemaah haji reguler Indonesia menghabiskan setidaknya 40 hari di Arab Saudi, maka tidak demikian dengan jamaah haji yang berangkat dari luar negeri. Saya sempat bertanya pada salah satu kenalan dari Malaysia, katanya sekitar 40 hari juga. Kemudian dari Maroko, sekitar 30 hari. Sementara dari Eropa, rata-rata memakan waktu 20 hari. Pengalaman saya sendiri dari Spanyol menghabiskan waktu bersih 22 hari.
    .
    Seperti kita tahu, inti ibadah haji sebenarnya hanya berlangsung selama seminggu saja. Panjangnya waktu yang dihabiskan di tanah suci sebenarnya lebih kepada pengalokasian jumlah jamaah, supaya tidak menumpuk di satu tempat pada saat yang lama. Karena jumlah jamaah dari Indonesia paling banyak, tentu saja alokasi waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghindari penumpukan jamaah tersebut juga semakin panjang.
    .
  4. Haji tanpa diurus negara
    Ya, inilah dia salah satu perbedaan yang paling mendasar dari berangkat haji di luar Indonesia. Di negara-negara minim muslim, pemerintah sama sekali tidak ikut andil dalam urusan haji. Pendaftaran haji dilakukan pada travel agent yang kemudian berhubungan langsung dengan Kedutaan Saudi Arabia.
    .
    Dengan sistem e-hajj saat ini, para travel agent itu bahkan memiliki mesin scan paspor dan program pendataan elektronik langsung ke Kementrian Urusan Haji di Arab Saudi. Travel-travel ini terverifikasi secara khusus oleh Kedutaan. Di Spanyol sendiri, pada tahun 2015 hanya ada 6 travel yang memiliki izin tersebut.
    .
  5. Manasik
    Di Spanyol, jangankan Manasik, sekedar kumpul pre-departure saja nggak ada 😀 Alhasil, saya dan suami pun harus belajar sendiri tentang tata cara haji mulai dari rukun dan wajibnya, rangkaiannya, hingga cari tahu tentang tips dan trik urusan teknis selama di sana. Meskipun demikian, di beberapa negara seperti di Swedia misalnya, ada travel agent yang mengadakan manasik meskipun hanya sekali. Jauh lah, jika dibandingkan dengan persiapan haji dari Indonesia yang sudah berbulan-bulan sebelumnya.
    .
  6. Suasana
    Kalau di Indonesia suasana haji sudah terkondisikan bahkan sejak di Asrama, tidak demikian dengan berangkat haji dari Spanyol. Pertama, jelas tidak ada pemondokan haji. Para calhaj berangkat langsung dari rumah masing-masing ke suatu tempat untuk berkumpul atau langsung bertemu di Bandara.IMG_3420.JPGPesawat yang kami naiki adalah Egypt Air dengan transit di Kairo. Wah, jangan bayangkan bisa langsung khusyuk bertalbiyah ya. Isi pesawat tentu saja bercampur dengan para turis yang berangkat dari Madrid 😀 Setelah transit di Kairo, baru lah suasana ibadah mulai terasa.
    .
  7. Rekan Seperjuangan
    Selesai menunaikan haji dari Indonesia, biasanya orang-orang mengadakan reuni. Bahkan ada yang sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu berhaji, tapi masih akrab berkumpul dalam reuni yang diadakan tiap tahun. Nah, belum tentu hal ini bisa kita rasakan kalau berangkat dari luar negeri.IMG_3592.JPGUmumnya, para jamaah haji yang berangkat dari negara minoritas muslim adalah para pendatang. Bisa yang temporer seperti saya (karena bekerja, bertalian darah dengan keluarga yang menetap, studi, dll), bisa juga yang sudah permanen sebagai permanent resident atau karena berganti warga negara. Seperti dari Spanyol misalnya, bisa dibilang 90% rekan satu rombongan saya berdarah Maroko. Jamaah yang berpaspor Spanyol pun bisa dihitung dengan jari.
    .
  8. Identitas Resmi
    Dari jauh, kita bisa mengenali jamaah haji Indonesia dengan batiknya yang khas. Belum lagi tasnya, gelangnya, mukenanya, payungnya, dll. Atau jamaah haji Malaysia juga dengan mukena bertuliskan ماليزيا besar-besar. Nah, jamaah haji dari Spanyol cukup berpuas diri dengan tali kalung seperti yang biasa dipakai di pameran/seminar hehe. Meleng dikit, temen kita udah nggak kelihatan 😀
    .
    Begitu juga jamaah haji dari negara Eropa lain, biasanya mereka tidak mengenakan identitas seragam yang mencolok. Paling banter seperti tas yang bertuliskan nama travel agent dan negaranya. Sepertinya penyeragaman identitas ini biasanya hanya ditemukan pada negara-negara dengan jumlah jamaah haji yang besar.


    Khusus untuk jamaah haji Indonesia, skala pengenal identitasnya bahkan bukan lagi negara, melainkan kota asal. Mudah saja untuk mengenalinya berdasarkan slayer mereka yang berwarna-warni 😀
    Soal identitas ini juga cukup krusial menurut saya. Pemerintah Indonesia menomor-satukan pentingnya tanda pengenal yang “tahan banting”. Tiap jamaah haji Indonesia mengenakan gelang identitas tahan api. Ini nggak ada di negara lain lho… Apalagi tahun kemarin banyak terjadi musibah. Identitas yang mudah dikenali tentu akan sangat membantu. Meskipun tentu saja kita berharap tidak akan ada lagi musibah di masa yang akan datang, Aamiin…
    .
  9. Uang Saku
    Nggak ada ya Buuu, Paaakk… Berhaji dari LN maka uang saku disiapkan sendiri, tidak termasuk dalam ongkos haji hehehe 😀
    .
  10. Makanan
    Alhamdulillah sejak tahun kemarin, saya dengar catering untuk jamaah Indonesia sudah lebih baik dan terorganisir. Dari Spanyol sendiri, alhamdulillah minimal 2x sehari dengan sistem prasmanan. Tapi harap diingat, berhubung berangkatnya dari Spanyol dengan mayoritas orang Maroko, maka seleranya pun selera Arab/Maroko hahaha. Beberapa kali kami akhirnya memuaskan diri ke Mr. Sate atau Warung Bakso Si Doel. Lama-lama nggak kuat juga soalnya 😀Si Doel Madinah.jpg.
  11. Kesehatan
    Mungkin salah satu keuntungan berangkat haji dari luar negeri adalah adanya peluang berhaji untuk wanita hamil. Meskipun saya dengar, di Pakistan dan di Nigeria juga diberlakukan pelarangan sebagaimana di Indonesia. Setidaknya di Spanyol, kehamilan saya saat itu tidak dipermasalahkan. Saya cukup memberikan surat keterangan hamil tanpa divaksin untuk mengurus visa. Baca selengkapnya di: Cerita Haji: Hamil dan Berhaji, Mungkinkah?
    .
    Bagaimana dengan urusan kesehatan selagi di tanah suci? Wah, kalau sudah menyangkut yang ini, Indonesia paling top deh. Tenaga kesehatan untuk jamaah haji dari Indonesia adalah tenaga kesehatan yang juga berasal dari Indonesia. Jadi nggak akan ada kendala bahasa. Indonesia bahkan memiliki BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) tersendiri. Pengalaman saya batuk-batuk parah kemarin, saya harus antri di balai pengobatan umum yang melayani jamaah dari berbagai negara. Dokternya pun dokter yang disediakan oleh pemerintah Arab Saudi.
    .
  12. Petugas Haji
    Inilah yang juga sangat membedakan haji dari Indonesia dengan negara lain. Dari Spanyol, karena haji tidak diatur oleh negara, maka sama sekali tidak ada petugas haji. Petugas yang ada hanya lah petugas yang dipekerjakan oleh pemerintah Saudi untuk membantu jamaah dari semua negara. Meskipun di negara lain seperti Pakistan, saya juga menemukan adanya petugas haji khusus untuk mereka, tapi petugas haji Indonesia sangat cekatan dan kompak. Berkali-kali saya mendengar bahwa Indonesia adalah salah satu negara peserta haji dengan manajemen yang paling baik.
    .
  13. Mabit dan Wukuf
    Jika satu komplek tenda hanya berisi jamaah haji Indonesia yang berasal dari kloter yang sama, tidak demikian dengan jamaah haji dari Eropa, Australia, dan Amerika. Satu komplek biasanya dihuni oleh beberapa negara yang kemudian terbagi dalam kumpulan tenda masing-masing. Di tempat saya misalnya, selain jamaah dari Spanyol, ada juga dari Swedia, Denmark, Perancis, USA, Itali, Finland, dan UK.  Mungkin bedanya, fasilitas yang kami dapatkan terutama di Mina, bisa dikatakan lebih baik. Dalam tiap tenda yang ber-AC, disediakan pula sofa bed untuk beristirahat.
  14. Tanpa Arba’in
    Total waktu haji dari Spanyol adalah 22 hari, dengan 13 hari di Mekkah, 5 hari di Arafah-Mina, dan 4 hari di Madinah. Sementara jamaah haji reguler Indonesia biasanya menghabiskan waktu di Mekkah sekitar 20 hari, di Arafah-Mina 4 hari dan di Madinah sekitar 6 hari. Karena itu lah, mustahil bagi kami untuk melaksanakan ibadah arba’in di Madinah mengingat waktu bersih di Madinah hanya tersisa 3 hari saja.

Nah, demikian sekilas perbedaan yang masih saya ingat. Intinya, meskipun pelaksanaan haji dari Indonesia masih ada kekurangan di sana-sini, tapi dari kacamata saya yang melihat dari luar sistem, saya bisa menilai bahwa manajemen haji Indonesia adalah manajemen yang terbaik. Semoga apapun jalan (resmi) nya, bagi semua yang sudah memiliki niat akan dimudahkan oleh Allah, aamiin!

 

 

7 thoughts on “Cerita Haji: Berhaji Legal dari Luar Negeri, Apa Bedanya?

  1. Assalamu’alaykum
    Keren mba ceritanya. Btw shalat Arba’in itu kalau menurut penjelasan Ustadz tempat saya mengaji adalah 40 hari bukan 40 x shalat shalat di masjid Nabawi. Wallahu A’lam Bishshawab

    Like

    • Alaikumussalaam.. Trimakasih mbak sdh berkenan baca 🙂

      Betul, sebagian menyatakan bahwa hadits itu dha’if. Kalau yg 40 hari itu shalat berjamaah tanpa putus tapi tdk harus di masjid nabawi.

      Hanya kalau saya pribadi sih, tetap aja merasa “iri” dengan jamaah haji Indonesia yg bisa lebih lama di Madinah 😀

      Terlepas dari hadits itu dha’if atau tidak, sayang sekali rasanya kalau sampai menyia-nyiakan kesempatan sholat berjamaah di masjidnya Rasulullah… Di masjid seseorang, yang mengingat umat2nya di masa yang akan datang, di saat-saat terakhirnya hidup di dunia… Di masjid yang di dalamnya ada taman surga… :’)

      Bagi saya khususnya, jangan sampai karena hadits arbain dianggap dhaif, trus kita jd nggak pol memaksimalkan kesempatan hehe. Saya mencoba mengambil hikmahnya aja dari hadits tsb sebagai motivasi supaya kita bisa beribadah maksimal di Madinah… Tentu saja jgn sampai menjadikannya beban/keterpaksaan karena toh bukan rukun/wajib haji 🙂

      Wallahu ‘a’lam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s