My Best Friend

Saya nggak punya banyak sahabat.

Teman, banyak. Tapi sahabat, rasanya bisa dibilang jarang 😀

Ketika saya kuliah, saya bisa menghabiskan weekend dengan berjalan-jalan ke mall  sendirian, menikmati makan siang sendirian, dan diakhiri dengan menonton film di bioskop juga sendirian.

Kelihatannya sedih banget ya? Forever alone gitu hehe. Tapi enggak juga sih sebenarnya… Di kampus, saya selalu kumpul dengan teman-teman dekat, makan siang dan ketawa-tiwi bareng. Kadang lanjut main keluar bareng sebelum balik kos. Dan nggak setiap weekend juga saya habiskan dengan sendirian seperti itu. I guess, sometime I just love to spend time with myself only.

Mungkin saya termasuk orang yang sangat percaya dan nyaman dengan diri saya sendiri 🙂

Hanya saja…. semuanya berubah ketika saya….. bukan, bukan ketika saya ketemu dia.

Saya kenal dia justru jauh sebelum saya jadi manusia dewasa. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 18 tahun saya kenal dengan orang ini. Tapi masuknya dia ke dalam kehidupan saya selama 10 tahun ini lah, yang membuat saya berubah.

Karena dia,

Saya mandiri, tapi pada saat yang sama, tak berdaya.
Saya merasa tinggi, tapi pada saat yang sama, membumi.

Karena dia,

Saya mengenal diri saya yang sebenarnya.

Bokeh4

New study says, you should marry your best friend. But for me, I finally got my best friend when I got married 🙂

Mulai dari detik lafaz ijab qabul itu teruntai dari lidahnya, sejak itulah saya menemukan orang yang akhirnya bisa sebegitunya saya percaya…. yang kepadanya saya bisa bersandar.

Dengannya, tak ada rahasia. Saya bisa bercerita tentang apa saja, dan merasa waktu tidak pernah cukup untuk menampung semua kisah yang ingin saya ceritakan kepadanya.

Saya jadi ingat, betapa dia jungkir balik mencari beasiswa ke luar negeri 8 tahun yang lalu. Usahanya sebenarnya sudah diambang pasrah, namun kembali membara ketika 2 tahun setelah kami menikah, kami tak kunjung jua diberi keturunan.

Ya, karena alasan itu.

Dia tak kuasa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang –walaupun mungkin tak berniat menyudutkan– tapi menimbulkan kabut di hati saya. “Kok masih berdua saja, belum isi juga?”

Alasan yang baru saya tahu… setelah akhirnya Allah mempercayakan buah hati kami yang pertama.

Tapi kalau saya berpikir lagi, memang hikmah Allah luar biasa adanya. Diberikan-Nya saya kesempatan untuk bermanja selama 5 tahun, sebelum akhirnya kami diberi amanah. Dan terlebih, diberikan-Nya saya kesempatan untuk merasakan memiliki sahabat sejati, yang dengannya kemudian saya pun ikut tumbuh. Menjadi istri, menjadi suami, dan kini menjadi ibu dan bapak dari 3 gadis kecil yang luar biasa.

I have spent my whole 20’s with him, and I never regret. Never was, never will be. Sepertiga umur saya, sudah saya habiskan bersamanya. And I’m looking forward for my 30’s, 40’s, 50’s, 60’s, and so on… Sampai suatu hari nanti terpaksa berpisah… dan berharap dipersatukan Allah kembali di surga-Nya.

Happy belated 10 years anniversary.

I love you, and I always do.

married

08-04-06

8 thoughts on “My Best Friend

    • aamiiin.. makasih ya mbak… waktu 8 tahun, kan namanya sewindu, rasanya romantiiss gitu *duileee. begitu sepuluh tahun, jadi satu dasawarsa, kok berasa kayak dirgahayu kantor hehehe 😛

      Like

  1. Pingback: My Best Friend – cryptether's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s