Bless the Dishwasher! :D

Awal menikah, sempat merasakan nikmatnya memiliki ART. Berangkat kantor rumah berantakan, pulang-pulang cucian piring sudah bersih dan baju sudah rapi jali licin disetrika.

Padahal si Mpok yang bantu-bantu hanya datang 3x seminggu, tapi bantuannya kerasa banget. Plus, kita belum punya anak…

Lalu kehidupan merantau pun dimulai. Hidup mandiri tanpa ada yang bisa membantu, membuat semua pekerjaan rumah tangga harus diatur adil dan sama rata ๐Ÿ˜ Suami biasanya spesialis mencuci piring dan baju.

Tidak jarang waktu jadi mahasiswa dulu, di masa tugas paper dan proyek studio menghadang, ternyata harus berbarengan pula dengan cucian yang menumpuk dan rumah yang bagai kapal pecah. Kami berdua pun hanya bisa saling berpelukan dan mengigau-igau, “Mpoookkk… Kangen Empoookk…” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

*Segitu masih hidup berdua padahal, belum beranak 3 kayak sekarang wakaka*

Tapi roda hidup yang terus berputar seperti itu, membuat kami akhirnya pun terbiasa. Masak sendiri, cuci-jemur-setrika/lipat sendiri, cuci piring sendiri…

Ternyata hidup di rantau, meskipun harus tanpa ART, pekerjaan rumah nggak sulit-sulit banget asal kita tau triknya. Memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin ๐Ÿ˜

Pertama, listrik di sini relatif lebih murah dengan daya yang saya juga nggak tau sebatas apa. Nggak pernah ngejepret! Pun alat rumah tangga elektronik sangat terjangkau harganya.

Maka jadi lah, kami berkawan akrab dengan vacuum cleaner, microwave, mesin cuci dengan air panas, dryer… Itu juga nggak semua milik sendiri, melainkan pinjaman/fasilitas dari apartemen.

Lima tahun di Swedia, akhirnya kami pindah ke Spanyol. Di sini, impian saya untuk menggunakan dishwasher pun kesampaian. Termasuk harga sewa rumah pula, jadi nggak perlu beli sendiri hihi.

Suami pun lega, akhirnya pensiun dari tugas mencuci piring ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Menggunakan mesin ini sebenarnya nggak bener-bener hands free juga. Ada proses pembilasan terlebih dulu, supaya nggak ada remah-remah makanan yang terbawa masuk.

mesin cuci piring

Setting-nya ada beberapa, tergantung tingkat kekotoran. Apakah hanya mencuci piring atau termasuk alat masak. Di setting tersebut, termasuk pilihan berapa derajat panas air yang akan dipakai untuk mencuci.

Lalu tinggal masukkan piring dan teman-temannya, tunggu sekitar sejam lebih maka mereka sudah mengkilat, licin, tercuci bersih, dan sudah dalam kering!

Menggunakan mesin cuci piring juga menghemat penggunaan air hingga 1/3 nya.

Akhir cerita, setelah 8 tahun di perantauan, misalnya suatu hari nanti balik lagi minta bantuan ART di Indonesia kok malah jadi mikir ya… Ngebayanginnya rikuh, sudah 8 tahun hidup hanya kami sekeluarga lalu tiba-tiba jadi ada orang lain yang juga wira-wiri di rumah. Kalau urusan cuci baju mentok2 ada laundry kiloan, lalu bagaimana dengan cuci piring?

Akhirnya googling lah saya mesin cuci piring di Indonesia… Maakkkkk, harganya bikin nangis.. Belum lagi listriknya, masya Allah… ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Nyari deterjennya aja (iya harus pake deterjen khusus mesin) juga nggak gampang. Harganya pun nggak masuk akal ๐Ÿ˜‚

Fix lah kalo gitu, kurang dari seminggu lagi berkawan dengan dishwasher. You are surely one of the โ€ช#โ€Žthingswearegoingtomissโ€ฌ ๐Ÿ˜

Untungnya, pekerjaan rumah yang paling saya suka memang mencuci piring. Ini namanya, hobi lama pun akan bersemi kembali wkwkw.

6 thoughts on “Bless the Dishwasher! :D

  1. di sini orang masih suka main air sambil nyuci piring.. jadi dishwasher ga dianggap penting :(( kalo di sana adakah alat yang bisa nyetrika sendiri? di sini kayanya bakal laku dehh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s