Cerita Haji: Hamil dan Berhaji, Mungkinkah?

“Wowww, lagi hamil?”

Begitu kata Ustadz Maulana yang populer dengan jargon ‘Jamaah oh Jamaah’ ketika tidak sengaja bertemu dengan saya dan suami di Restoran Indonesia di gedung seberang Masjidil Haram. Juga demikian pertanyaan yang biasa dilontarkan jamaah haji Indonesia yang kebetulan berbagi shaf dengan saya ketika sholat.

Hamil dan berhaji memang sesuatu yang kelihatannya mustahil untuk berdampingan di mata jamaah haji dari Indonesia. Tapi tidak demikian bagi jamaah haji dari luar negeri. Meskipun begitu…. bukan berarti proses keberangkatan haji saya berjalan mulus. Begini ceritanya….

——

Niat kami untuk berhaji sebenarnya sudah ada sejak 1-2 tahun ke belakang. Niat itu pun makin kuat, apalagi ketika tahu kalo antrian haji di Indonesia wow-bukan-main-panjangnya saat ini. Kelihatannya, berhaji dari luar negeri adalah jalan yang terbaik bagi kami. Setelah tertunda karena satu dan lain hal ketika kami bermukim di Swedia, maka berhaji dari Spanyol, tempat kami bermukim saat ini lah solusi yang paling mungkin.

Proses DP ke biro travel sudah beres kami lakukan sejak bulan Januari 2015. Persyaratan lainnya juga beres, yaitu izin tinggal di negara yang kami tinggali yang masih berlaku minimal 6 bulan dari tanggal pengajuan visa haji. Selebihnya, syaratnya sebenarnya sama aja di mana yang paling utama adalah: sertifikasi/bukti vaksin meningitis.

Maka ketika hasil test pack saya menunjukkan tanda positif pada bulan Juni 2015, setelah tentunya mengucap syukur, pertanyaan yang kemudian muncul di kepala saya adalah,

“Apa kabarnya dengan vaksin meningitis yang belum saya lakukan?”

Kalau sudah begitu, langsung lah google search jadi tujuan pertama. Satu halaman…. dua halaman… tiga halaman….. Scroll kesana, scroll kesini….dan hasilnya NEGATIF! 😦 Hampir semuanya berita buruk! Semua website berbahasa Indonesia yang saya telusuri menunjukkan jika vaksin meningitis hanya bisa dilakukan bagi wanita yang tidak hamil. Bahkan di Indonesia, sebelum dilakukan vaksin akan dilakukan tes kehamilan terlebih dahulu bagi calon jamaah haji.

Kegelisahan itu pun semakin menjadi ketika kami menghubungi anak pemilik biro travel (yang biasa berkomunikasi dengan kami, karena si pemiliknya tidak fasih berbahasa Inggris) dan mendapatkan jawaban: vaksin meningitis adalah syarat mutlak bagi pengajuan visa haji. Duh….

Sebenarnya, saya pernah melakukan vaksin meningitis sebelum berangkat ke Kenya. Tapi vaksinnya sudah kadaluarsa sejak 2 tahun yang lalu. Geregetan rasanya melihat buku kuning saya yang menunjukkan tanggal expired vaksin meningitis di bulan Januari 2013.

Sedikit cahaya terang lalu muncul ketika saya membaca website berbahasa Spanyol yang menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak negatif vaksin meningitis bagi ibu hamil. Harapan pun kembali hidup di dalam hati saya. Ah, semoga saja!

Saya juga teringat akan komunitas ibu-ibu alumni ITB yang saya ikuti selama ini. Komunitas keren yang wawasan dan pengalaman ibu-ibunya bisa dibilang seluas samudera hehe 😛 Maka saya pun mengajukan pertanyaan di sana mengenai kondisi yang saat itu sedang saya alami…

imunisasi itbmh

Dari pertanyaan ini kemudian muncul beberapa sharing, salah satunya adalah dari seorang Teteh yang tinggal di Jepang dan berhaji ketika hamil dengan tetap melakukan vaksin lalu Teteh yang lain yang sudah berdomisili di Arab Saudi yang berhaji ketika hamil dan tanpa vaksin.

Karena saya pikir kasus saya lebih relevan dengan Teteh yang tinggal di Jepang, maka saya pun menyiapkan mental saya untuk mengambil jalan vaksin meningitis ketika hamil. Di Spanyol, pusat vaksinasi internasional semua dilakukan di bawah koordinasi pemerintah. Jadi kita tidak bisa mengambil vaksin di klinik atau RS swasta misalnya. Ada semacam lembaga publik khusus yang menangani permintaan vaksin untuk perjalanan ke luar negeri. Sambil menunggu jadwal vaksin, puluhan message juga suami saya layangkan ke teman-temannya yang berprofesi dokter. Jawabannya pun beragam, ada yang bilang ‘boleh’, tapi lebih banyak yang bilang ‘sebaiknya jangan’.

Alhamdulillaah.. saya merasa skenario Allah pun luar biasa adanya. Diberi-Nya waktu selama bulan Ramadhan penuh bagi saya agar bisa terus berdoa sebelum tiba jadwal vaksin di akhir bulan puasa nanti. Saat itu yang ada di kepala saya adalah upaya untuk meyakinkan diri bahwa vaksin meningitis yang akan saya ambil ini tidak berdampak buruk bagi saya terlebih bagi bayi dalam kandungan.

——

Lalu ketika hari itu tiba…

“Baik, ini rencananya vaksin meningitis untuk visa haji ya?” tanya dokter.

“Iya dok, tapi ada satu kondisi… Saat ini saya hamil,” terang saya.

“Waduh, kalo hamil, saya nggak bisa kasih vaksin…” jawab dokter.

“Tapi dok, di dokumen ini saya baca belum ditemukan efek samping bagi wanita hamil,” saya pun menyerahkan lembaran dokumen pdf dari dinas kesehatan Andalusia yang saya temukan dari hasil googling.

“Iya betul, tapi ini kan bukan studi resmi, hanya berdasarkan laporan case by case saja. Sejauh ini tidak ada studi medis bagi wanita hamil tentang dampak vaksin meningitis karena secara etika kedokteran memang dilarang untuk melakukan studi pada wanita hamil. Saya tetap tidak bisa memberi vaksin ini untuk kamu. Akan beresiko,” penjelasan si dokter langsung membuat dunia saya mendadak berhenti berputar.

Ya Allah… sebulan lamanya saya berdoa agar saya diberi kekuatan untuk menjalani vaksin, bukan dengan skenario yang ini!

“Tapi Dok, vaksin ini wajib untuk aplikasi visa haji…,” tetap keukeuh saya mengejar si dokter.

“Sudah, kamu tenang aja. Saya akan kasih kamu exemption letter, surat pengecualian bahwa kamu tidak bisa divaksin karena sedang hamil. Ini biasa kok. Lagipula memang tidak semua orang bisa vaksin meningitis, ada yang karena faktor alergi misalnya,” si dokter pun berusaha meyakinkan saya.

Dia lalu membuat surat pengecualian, memprint, dan menandatangani langsung saat itu juga. “Ini, lampirkan surat ini untuk aplikasi visa kamu. Kalau ada apa-apa, misalnya pihak Embassy mempertanyakan, kamu kontak saya di nomor ini. Tapi saya cuti ya, mulai minggu depan sampai akhir Agustus. Harusnya masih keburu karena kamu berangkat pertengahan September, kan?”

Allahu Robbi! Setengah tidak percaya saya melihat nama dan nomor telepon miliknya yang ia berikan pada saya. Begitu baiknya sang dokter berusaha meyakinkan saya sampai-sampai dia pun memberikan nama dan nomor teleponnya jika dibutuhkan. Padahal tidak sembarang orang bisa mendapat nama dan nomor telepon dokter, apalagi di lembaga publik seperti yang saya datangi ini.

Tak bisa dipungkiri, selembar kertas pengecualian dari dokter tidak bisa membuat saya puas. Ditambah lagi melihat lengan suami yang diplester setelah vaksin lengkap dengan buku kuningnya. Rasanya nelongso dan geregetan! Langsung lah kami update perkembangan ke biro travel bahwa saya tidak bisa mendapatkan vaksin meningitis. Momen yang bertepatan dengan lebaran kemudian mengakibatkan jawaban yang kami terima harus tertunda hingga 2 minggu lamanya. Ya Allah….

Surat Pengecualian Tidak Diimunisasi Vaksin Meningitis

Surat Pengecualian Tidak Diimunisasi Meningitis

Sambil menunggu, kebiasaan browsing saya makin menjadi. Yang ada, berita demi berita tentang larangan berhaji bagi wanita hamil di berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, dan Nigeria malah membuat harapan saya semakin mengkeret! Apalagi keterangan di kementerian haji Saudi Arabia pun terasa kabur. “Bagi wanita hamil, dianjurkan untuk menunda rencana hajinya hingga tahun depan”.

Saya lalu mulai menata hati saya.

Belajar untuk mengikhlaskan jika memang saya tidak bisa berangkat haji tahun ini….. Belajar untuk ridho jika memang hanya suami saya saja yang bisa berangkat……

Total sudah 2 bulan lamanya perasaan saya terombang-ambing. Sementara jadwal keberangkatan kami pun hanya tersisa 1,5 bulan lagi. Akhirnya di awal Agustus, sebaris berita whatsapp kami terima:

“The brother who usually deal with the visa application said that it should not be a problem.”

Lega? Ah, tentu saja belum! Berbagai pertanyaan masih berkecamuk di benak kami. Brother yang mana, apa hubungannya dia dengan Saudian Embassy, apa jaminannya kalo ketidakvaksinan saya tidak akan jadi masalah, dan lain-lain.

Lalu berangkat lah suami seminggu kemudian melengkapi persyaratan administrasi yang harus kami lampirkan untuk aplikasi visa. Kenapa begitu mepet? Ya karena aplikasi visa haji memang tidak akan diproses sampai 3 minggu sebelum tanggal keberangkatan.

“Aku ada berita,” kata suami melalui telepon setelah urusan dengan biro travel selesai. “Yang berangkat lagi hamil tahun ini nggak cuma kamu…,” sambungnya lagi, “….dan dia juga nggak divaksin meningitis.”

Setengah tidak percaya saya mendengar suara suami di ujung sana. Alhamdulillah ya Allah… Akhirnya sedikit beban di hati saya mulai terkikis pelan-pelan.

“Terus, tahunya kalo visa kita diterima atau enggak, harus nunggu berapa lama?” kejar saya. Toh bagaimanapun, perasaan was-was itu tetap saja masih ada.

“You’ll never know. Tahun kemarin, sampai H-1 juga masih ada yang visanya belum di-approve. Tapi Pak Hasan (si pemilik biro travel) optimis kok, katanya udah biasa kasus hamil trus gak divaksin kaya gini. Kitanya aja yang kurang clear karena dari kemarin kontaknya sama anaknya terus.”

Allahu Akbar! Ternyataaaaaaaaaa! Mungkin harusnya semua bisa clear dari awal kalo kita langsung kontak ke Pak Hasan. Tapi apa boleh dikata, kalo ngobrol lewat telepon/whatsapp memang beliau kurang bisa komunikatif karena keterbatasan kami berbahasa Spanyol. Karena itulah kami selalu berhubungan lewat anaknya.

Ah…, tapi tidak pernah ada doa yang sia-sia bukan? Haji itu bukan hanya masalah terpanggil. Bukan hanya masalah mampu. Tapi juga apakah benar Allah mengundang kita ke rumah-Nya….. Apakah benar Allah ridho kita menjadi tamu-Nya di Baitullah…

Lantas selesaikah proses menuju keberangkatan kami ke tanah suci? Selama visa belum di tangan, rasanya perasaan memang belum benar-benar bisa lega. Dan benar saja, masalah yang lebih rumit justru harus kami hadapi H-7 sebelum keberangkatan…. Bukan, bukan masalah kehamilan saya. Keberangkatan kami ke Baitullah pun sempat terancam gagal. Untuk yang ini, ceritanya akan saya tulis di post berikutnya 🙂

——

Bagaimana dengan cerita hamil dan berhaji itu sendiri? Secara syariat sesungguhnya tidak ada larangan bagi wanita yang hamil untuk berhaji. Berdasarkan riwayat, seorang shahabiyah Asma’ binti Umais RA keluar berhaji bersama Nabi SAW sementara beliau dalam kondisi hamil tua dan melahirkan di miqot. Aisyah RA berkata, “Asma binti Umais istri Muhammad bin Abu Bakar melahirkan di dekat sebuah pohon. Kemudian Rasulullah menyuruh Abu Bakar supaya dia mandi dan berihram.” (HR Muslim).

Tapi tentu saja, kembali kepada prinsip dasar haji itu sendiri di mana kata “MAMPU” adalah kuncinya. Tidak hanya sekedar mampu secara finansial, tapi juga salah satunya secara fisik. Dan hal ini tentu saja kembali lagi ke diri masing-masing. Bagaimana dengan riwayat kehamilan kita? Apakah pernah keguguran? Adakah keluhan yang dialami selama ini? Bagaimana dengan saran dari dokter? Jangan lupa, kita juga harus selalu ingat bahwa, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan (tidak boleh pula) membahayakan orang lain.” (HR Ibnu Majah: 2/784).

Kalau pake hitam begini, nggak begitu kelihatan hamilnya ya? :)

Kalau pake hitam begini, nggak begitu kelihatan hamilnya ya? 🙂

Bagi saya pribadi, kehamilan di trimester ke-2 adalah saat yang terbaik untuk melaksanakan haji. Drama morning sickness sudah lewat sementara perut juga belum terlalu menyusahkan. Harus diingat bahwa haji adalah ibadah yang sangat physical dan demanding. Alhamdulillaah, Allah memudahkan saya dengan hal itu. Keberangkatan saya ke tanah suci terjadi ketika usia kehamilan saya 18 minggu.

Tentu saja dengan/tanpa vaksin meningitis, kita juga harus selalu sadar bahwa kondisi ibu hamil secara alami tidak se-prima orang lain. Imunitas tubuh perempuan hamil menurun sementara haji adalah kondisi di mana jutaan manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul jadi satu sehingga penyakit menular lebih rentan untuk berkembang cepat dibanding kondisi biasanya. Karena itu, sebatas pengalaman saya, berikut catatan bagi ibu hamil yang ingin melaksanakan ibadah haji (dan sepertinya applicable juga untuk yang ingin berumrah):

  1. Niat
    Coba tanyakan lagi pada diri kita sendiri, adakah keraguan yang muncul karena kondisi kita yang sedang hamil? Sejak awal saya menerima hasil test pack, alhamdulillah tidak pernah ada sebersit pun keinginan dari saya untuk mundur dari rencana berhaji.
  2. Lihat sejarah kehamilan
    Apakah ini kehamilan pertama? Bagaimana riwayat kehamilan sebelumnya jika bukan kehamilan pertama? Bagaimana situasi terakhir yang kita rasakan selama menjalani kehamilan?
  3. Konsultasi tenaga medis
    Pastinya setelah mantap dengan niat dan yakin dengan kondisi tubuh kita, kita juga perlu berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan semuanya secara legal.
    Saya? Mungkin agak sedikit bandel. Saya tidak pernah benar-benar berterus-terang kepada dokter/bidan jika saya akan berhaji. Karena, toh mereka pun juga nggak akan begitu ngerti kalo saya jelasin hehe. Jadi yang saya lakukan adalah bilang bahwa saya akan ke luar negeri lalu memastikan semuanya bagus, baik kondisi saya maupun janin. Selain itu lebih diyakinkan lagi dengan tes darah juga USG, dan bertanya betul-betul kepada dokter/bidan, ‘apakah semuanya baik-baik saja’. Buat saya, hal itu saja sudah cukup menjadi justifikasi bahwa kehamilan saya baik dan tidak bermasalah 🙂
  4. Jaga diri
    Dengan tidak diimunisasi, jelas benteng pertahanan kita tidak sekokoh orang-orang yang lain. Maka sesuai petunjuk dokter dari lembaga imunisasi, saya selalu memakai masker (kecuali kalo mau difoto wkwkw) terutama ketika berada di tempat-tempat yang tidak ada udara bebas, juga di toilet, dan di keramaian. Rajin cuci tangan, bawa antiseptik, juga rajin minum air putih (air zam-zam pula airnya! 🙂 ).
    Siapkan juga dispo pantyliner yang banyak, berhubung ibu hamil sering bermasalah dengan buang air kecil. Jadi ketika gak sengaja batuk/bersin terus keprucutan (hehe 😛 ), sambil cebok tinggal dibuang aja pantyliner-nya, ganti baru, lalu celana kita pun bisa tetap bersih dari najis.
  5. Know your limit
    Sesungguhnya, yang benar-benar kenal tubuh kita hanya kita sendiri. Hanya kita juga yang tahu batasan akan kemampuan kita. Beberapa ibadah haji, bisa diwakilkan jika kita tidak mampu melaksanakannya. Seperti misalnya melontar jumrah. Melontar jumrahnya sih gak berat-berat amat, tapi jalannya itu yang terkadang jauh, tergantung lokasi kita di mana ketika mabit di Muzdalifah atau bermalam di tenda Mina. Atau misalnya ketika umroh lalu mendapat jatah thawaf yang rada “berat” (dalam artian sedang dalam kondisi padat dan sesak), maka sa’i bisa dilanjutkan setelah diselingi sholat fardhu 1-2x misalnya. Atau bisa juga pilih thawaf di lantai atas dan sa’i pakai kursi roda (kalau mau, banyak yang nyewain saya lihat). Pokoknya jangan memaksakan diri, dibuat santai aja… 😉

Alhamdulillaah, pada akhirnya pengalaman berhaji ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya seumur hidup. Berbagai ketidakmungkinan yang menjadi mungkin, kesulitan yang menjadi mudah, benar-benar saya syukuri sebagai rahmat dari Allah. Kebahagiaan yang rasanya hingga hari ini tak pernah putus… Merasakan menjadi tamu Allah di rumah-Nya…. Menerima panggilan-Nya… Labbaik Allaahumma Labbaik… Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah.. Duhai Allah, dan saya pun akhirnya benar-benar telah datang! :’)

Plus…. bonusnya, janin yang ada dalam kandungan ini sejak dini sudah “terpapar” oleh lantunan adzan dan suara imam di Masjidil Haram dan Nabawi, berjuang bersama di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina, dan merasakan pusat rotasi dari seluruh energi yang ada di muka bumi: thawaf di depan Ka’bah. Semoga kelak menjadikannya manusia yang tangguh dan shalih… Aamiiin.

26 thoughts on “Cerita Haji: Hamil dan Berhaji, Mungkinkah?

  1. Tidak ada yang tidak mungkin didunia Ini kecuali atas ijinNya. Juga tidak ada yang pasti kecuali kematian.. Nice post Mbak. Cerita haji selalu menarik, dan penuh “keajaiban”. Salam dari Qahirah.. -Ellys

    Like

    • bener banget mbak Ellys.. manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. terima kasih sudah berkenan mampir mbak.. saya juga sangat menikmati foto2 mbak Ellys di Cairo (kemarin PP perjalanan haji, transitnya di sana, jadi pingin main ke sana deh.. 🙂 )

      Like

  2. Alhamdulillah mbak Riana dah berhasil menjalani prosesi haji dgn selamat. Aku jd inget perjuangan ibukku yg tuna netra ketika berhaji tahun kmrn. Btw, penasaran dgn cerita H-7 nya nihh.

    Like

    • masya Allah.. dengernya aja saya udah merinding mbak Nana.. pasti pengalaman yang luar biasa bagi kita yang melihat terlebih bagi ibunda yang merasakan sendiri.. salam untuk ibunda ya mbak.. cerita H-7 nanti menyusul 😉

      Like

  3. Masya Allah.. Baca kisah2lo ga pernah bosenin ri.. Dan kisah kali ini masya Allah Allahu Akbar, keren bgt bisa berhaji di kala hamil. Semuanya emang balik ke niat. Insya Allah mabrur ya riana&suami. Sehat2 buat janinnya..

    Like

  4. Masya Allah.. Baca kisah2lo ga pernah bosenin ri.. Dan kisah kali ini masya Allah Allahu Akbar, keren bgt bisa berhaji di kala hamil. Semuanya emang balik ke niat. Insya Allah mabrur ya riana&suami. Sehat2 buat ibu&janinnya..

    Like

  5. MasyaAllah, inspiratif sekali ceritanya. Enak banget ya si dede udh diajak ke Tanah Suci dr di kandungan, kalo aku kayaknya agak susah deh mengingat riwayat2 kehamilan yang sebelumnya. Jadi pengen lebih giat kumpulin uang biar bisa ke Tanah Suci…

    Like

    • Alhamdulillaah.. iya kebetulan saya tiap hamil gak pernah ada catatan, jadi sejak awal walaupun tau positif tetep mantap untuk berangkat.. insya Allah mbak Ratna disegerakan ke Baitullah ya mbak,,

      Like

  6. Ahhh, speechless bacanya, nangis ini mbak. Tapi bener kok Haji itu utk memenuhi panggilanNYA. Apapun kondisi kita, kalo sudah dipanggilNYA Insyaa Allah semua bakal dimudahkan meski terasa sulit pada awalnya.

    Moga mabruuuur, sehat sehat bumil dan debay yaa ^_^

    Like

    • Aamiin yaa robbal ‘aalamiiin.. Iya banget Mbak, banyak peristiwa2 yang sudah membuktikan itu.. kalo kita memang diundang, sesulit apapun pasti ada jalan 🙂

      Like

  7. Pingback: Hamil dan Berhaji ala Riana Garniati Rahayu

  8. Pengalaman yg sama yg ak rasakan..tp ak umroh april kemarin..pdhl mei lahiran..usia kandungan wkt itu 8bulan..dengan berat badan 104kg..
    Tadinya ragu..ah pasti travelnya becanda nih boong..masa hamil 8bulan bs terbang..dan di kkp memang tidak dibolehkan vaksin pd saat hamil..tp ttp diijinkan tuk umroh
    Alhamdulilah lancar dan dimudahkan..walaupun bawa kursi roda dr rumah..cuma pas thawaf n sai aja jalan tanpa kursi roda. Perjuangan kalo sudah niat insya Allah dimudahkan oleh Allah SWT utk jadi tamunya..

    Like

      • Haji dari Indonesia kah mbak? Setau saya wajib vaksin… Pemerintah Arab Saudi juga mensyaratkan wajib vaksin meningitis utk apply visa haji, pengecualian hanya untuk ibu hamil, anak di bwh usia tertentu, dan orang dgn kondisi tertentu (misal: memiliki alergi terhadap kandungan vaksin)

        Like

  9. Pingback: Cerita Haji: Berhaji Legal dari Luar Negeri, Apa Bedanya? | Keluarga Ibrahim

  10. hi mba salam kenal ya saya revi 😊
    saya tertarik bgt dengan ceritanya, dan kebetulan saya jg lg galau nih mba..
    saya saat ini sedang hamil 12w, inshaAllah 3 minggu lg saya mau umroh tapi masalahnya saya gk punya buku kuning, gak pernah vaksin meningitis jg sebelumnya, kira2 apa boleh berangkat ya ? 😥

    Like

    • Salam mbak.. Hmm, sepertinya harus dipastikan lagi ke biro umroh nya ya mbak.. Karena memang peraturan Indonesia lebih ketat. Mohon maaf belum bisa membantu, semoga dilancarkan segala niat baiknya..

      Like

  11. MasyaAllah cerita yg luar biasa…smoga saya bisa berangkat haji seperti mb riana..mohon doanya..agar diberikan kemudahan…
    Krn saya sedang hamil dan InsyaAllah jika diijinkan Allah usia kehamilan sama dg mb riana…namun saya ada kendala..jika saya tdk ada bukti vaksin maka dokter di puskesmas tdk mau mengeluarkan kartu kesehatannya dan dijamin saya tdk bs berangkat..saya sedang berusaha meyakinkan dokter nya namun lagi lagi smoga Allah meridhoi saya untuk berangkat ke tanah suci…smoga nular berkahnya mb riana…smoga aku juga tangguh seperti mbak…ga cuma mewek aja….

    Like

  12. Pingback: Allah Sebaik-baik Pembuat Rencana | Keluarga Ibrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s