Pejuang di Tanah Seberang

Let us remember: One book, one pen, one child, and one teacher can change the world. - Malala Yousafzai

3 tahun yang lalu…

 

Hari itu, saya yang masih merantau di luar kedatangan tamu. Mengetahui saya sedang berlibur di Indonesia, teman kecil saya sewaktu SD tiba-tiba berkunjung ke rumah.

 

Dia masih tetap sama, bersahaja. Memilih untuk jadi ibu rumah tangga meski sebenarnya lulusan S1 ekonomi syariah dari universitas negeri. Saat itu, dia datang sendiri saja.

 

“Ya Allah, apa kabar Li? Kangen banget…. Kok putri kecilnya gak diajak? Sama Abi-nya?” tanya saya.

“Enggak Ri, dititip ke Nenek. Abinya sekarang kerja di luar,” jawabnya.

“Oh, kerja di mana memangnya?”

“Di Malaysia,” jawabnya lagi.

“Ih, kenapa gak ikut aja…,” sontak saya berkomentar.

 

Lalu keluarlah segala cerita saya, yang walaupun baru sekali ke Malaysia, tentang betapa menyenangkannya tinggal di sana.

 

“Makanannya enak-enak kan, Li…”

“Wah, kalau mudik gak usah repot-repot kayak aku tuh, Li… Udah jaraknya jauh banget, ongkosnya juga besar…”

“Tau gak Li, kalau ada kesempatan, aku pingin juga lho tinggal di sana.”

“Budayanya juga nggak jauh beda, kan. Duh, bandingkan sama negaraku tinggal sekarang.”

 

Saya mencerocos. Gabungan antara sok tahu dan curhat colongan

 

Dia cuma menanggapi dengan senyum.

 

“Malaysia-nya bukan di Kuala Lumpur, Ri,” katanya, “di pulau yang nyatu sama Kalimantan,” sambungnya lagi.

 

“Oh…,” kata saya. Pikiran saya, paling di Serawak…

 

“Di kebun kelapa sawit, hehe. Di hutan pedalaman. Gak mungkin aku dan anakku tinggal di sana,” dia bercerita.

 

Saya diam, mulai mereka-reka.

 

“Suamiku jadi guru, untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di perbatasan Malaysia-Indonesia. Kebanyakan mereka anak TKI atau bahkan sudah jadi TKI.”

 

Hati saya pun mencelos mendengarnya.

 

“Guru untuk WNI?” tanya saya.

“Iya, program pemerintah kita. Supaya mereka tetap terpapar pendidikan,” terangnya.

Sejak tahun 2002, rupanya pemerintah Malaysia tidak membolehkan anak-anak TKI Indonesia belajar di sekolah umum.

 

Saya beristighfar dalam hati. Betapa seringnya saya dongkol terhadap kebijakan pemerintah saat itu. Merasa pemerintah kadang auto-pilot, karena Presidennya sibuk untuk urusan lain. Mengeluarkan album, misalnya *eh

 

Tapi ternyata di balik itu, ada kebijakan-kebijakan hebat yang seringkali kita tidak tahu!

 

“Wah, kondisinya prihatin banget… Itu di hutan, Ri. Di tengah-tengah kebun kelapa sawit. Nggak mungkin menyuruh mereka untuk datang dan sekolah di kota. Sumber kehidupan mereka kan di situ,” ceritanya lagi.

 

“Jadi suamiku ikut tinggal di bedeng-bedeng sama guru-guru yang lain. Sehari-hari mengajar. Sehabis mengajar ya interaksinya sama buruh kelapa sawit itu. Jauuuuuhh dari mana-mana. Susah air, susah listrik, gak ada sinyal telepon kecuali harus ke kota terdekat. Itu juga mesti naik truk kelapa sawit dulu, terus sambung dengan bus,” dia teruskan ceritanya sambil tersenyum, “karena itu aku dan anakku nggak bisa ikut tinggal di sana.”

 

Masya Allah….

 

“Kontraknya dua tahun, habis itu bisa diperpanjang atau pulang. Aku dan putriku nunggu di sini aja, ke sananya juga susah, hehe.”

 

Saya terdiam. Benar-benar, tidak pernah terlintas di kepala saya sebelumnya, pikiran tentang hal itu.

 

“Pekerjaan mulia banget ya Li, insya Allah berkah,” akhirnya saya membuka suara.

 

Ahh, betapa malunya. Saat itu sungguh rasanya ingin saya tenggelam ke dasar bumi!

 

Iya, betul. suaminya memang kerja di luar negeri, tapi lihatlah kondisinya. Terlebih lagi, lihat kontribusinya! Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country. Sementara saya, yang hidup di negara yang maju dan nyaman, nebeng suami pula, malah mengeluh begini dan begitu.

 

Dari tangan suami teman saya, dari tangan kawan-kawannya, harapan itu dinyalakan. Mereka-mereka inilah, manusia mulia dengan tugas besar, yang tak pernah muncul di berita-berita besar. Guru-guru di pedalaman Indonesia, di perbatasan antar negara, pembawa bara api bagi bocah-bocah yang mengangkat obor masa depan.

 

Sebagaimana kata Malala Yousafzai, “One book, one pen, one child, and one teacher can change the world.

 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2017.

 

https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-guru-anak-tki-di-pedalaman-hutan-malaysia.html

http://internasional.kompas.com/read/2016/06/21/18595881/empat.tahun.mengajar.di.kebun.sawit.di.sabah.guru-guru.ini.pulang.tanpa.kepastian

5 thoughts on “Pejuang di Tanah Seberang

  1. aku guru teteh..bangga dengan postingan ini..haru juga. 6 tahun aku mengajar di pedalaman, dari rimba belantara di Sumatra itu aku bisa melanjutkan studi magisterku di rimba ilmu pengetahuan di kota Bandung.

    Like

  2. Wah….! Cerita yang menyentuh Mbak dan banyak hikmahnya…!
    Salam kenal Mbak. Saya blogger juga di strategikeuangan.com.
    Kalau berkenan, sila bersilaturrahmi ke blog saya..
    Terimakasih…!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s