The Story of Raya’s Toilet Training

Wow, ternyata sudah lama sekali saya nggak  nulis tentang anak-anak ya… Gilirannya Raya lagi nih sekarang… Apa kabarnya? Alhamdulillah, sebentar lagi umur Raya 3 tahun. Sudah semakin lancar dan terstruktur bicaranya… Bahasa Inggris, Indonesia, sedikit Spanyol, dan… sedikit bahasa planet hehe.

Adaptasi Raya dari Swedia ke Spanyol pun relatif tidak menemui kendala. Gurunya bahkan bilang kalo Raya nggak terlihat seperti anak pindahan. Dia bisa cepet berbaur dan aktif berkegiatan sama teman-temannya yang lain 😉

Balik ke judul di posting ini, usaha untuk men-toilet training Raya sebenarnya sudah ada sejak tahun kemarin, waktu kami mudik ke Indonesia. Saat itu Raya masih belum bisa ngomong dalam kalimat yang lengkap. Dijelasin untuk pee dan poo di toilet juga belum nangkep. Alhasil, yang ada cuma ngabis-ngabisin stok celana aja. Bocor kemana-mana! >_<

Kemudian kami pun disibukkan dengan proses kepindahan dari Spanyol ke Swedia. Akhirnya toilet training tertunda kembali. Awal tahun ini, setelah semuanya settled, saya mulai kembali proses itu. Saya lihat, Raya juga sudah risih pake diaper. Biasaya sekali dipipisin langsung minta ganti. Haduuuhh boros hehehe. Selain itu, Raya juga semakin nyambung diajak komunikasi. Lalu mulailah saya melancarkan strategi! 😀

1. Komunikasi

Pertama-tama saya jelaskan dulu pengertian apa itu pee/poo. Misal, ketika Raya poo di diaper-nya, saya akan bilang kalau itu namanya poo. Seringkali jika saya harus buang air, Raya juga ingin ikut menemani. Lama-lama, dia jadi bertanya-tanya, “What are you doing, Ibu?” Lalu saya jelaskan kalau saya pee/poo di toilet.

2. Beri contoh

Selain contoh langsung seperti di atas, saya juga menunjukkan kalau saya nggak pake diaper. Diaper is for baby *sambil nunjuk adiknya*. Kalo ibu pakenya panties/celana dalam. Sebelumnya, saya juga sudah menyediakan stok beberapa celana dalam yang lucu-lucu untuk Raya. Lalu saya tunjukkan padanya, kalau dia pun punya panties seperti ibu. Lama-lama dia kepingin pakai panties yang dia punya. Disitu lah propaganda saya dimulai. Saya bilang, Raya baru boleh pake panties kalau pee/poo di toilet, seperti ibu.

3. Rutinitas bertahap

Setelah itu, pelan-pelan Raya mulai dilatih, Tiap pulang sekolah, diaper-nya dibuka lalu dia saya dudukkan di toilet. Saya suruh dia untuk pipis sambil terus saya kasitau, kalau mau pee/poo harus bilang. Panties juga sudah dipakai, tapi khusus untuk yang favoritnya, saya simpan dulu.

Progres awalnya, akhirnya dia mulai bilang…. meskipun belakangan. Alias udah bocor duluan hehe. Tapi kurang dari seminggu, dia pun ngerti sendiri. Sebelum tidur malam juga dibiasakan untuk pipis. Alhamdulillah, dari awal Raya sama sekali nggak pernah bocor di kasur! Pagi-pagi begitu bangun juga langsung dipipisin.

Langkah selanjutnya, saya beritahu dia untuk ke toilet sendiri ketika mau pee/poo. Buka celana sendiri lalu panggil ibu/bapak kalau sudah selesai. Untuk ini, saya merelakan 1 toilet dipakai khusus untuk Raya (kebetulan di rumah ada 2 toilet).

IMG_1024 (683x1024)

4. Kerjasama dengan sekolah

Setelah seminggu progresnya bagus, saya lalu lapor ke gurunya. Mereka menyambut baik. Menyarankan saya untuk sedia lebih banyak baju ganti lengkap dari kepala-kaki. Alhamdulillah, pada akhirnya baju ganti itu nggak pernah terpakai. Setelah dua minggu, ternyata Raya berhasil melewati semuanya dengan skor sempurna tanpa bocor sekalipun. Gurunya pun memberi hadiah medali 🙂

diaper medal

5. Beri rewards

Pada tahap awal, saya “mengimin-imingi” dengan “bunny panties” miliknya. Memang Raya keliatan suka sekali dengan celananya yang itu. Jadi, si celana bunny ini sengaja saya simpan sampai setidaknya pipisnya sudah lebih terkontrol. Setelah itu, juga ada rewards untuk hasil akhirnya. Untuk yang ini, bentuknya surprise, bukan berupa iming-iming. Ketika Raya sudah bisa dinyatakan lolos toilet training, saya berikan kepadanya mainan dokter2an. Kebetulan dia sedang cinta berat sama profesi dokter 😀

6. Sabar, sabar, dan sabar

Saya merasakan sendiri, ternyata kesiapan toilet training bukan hanya datang dari anak, tapi juga orang tuanya… Bagaimana melawan kepraktisan penggunaan diaper. Apalagi yang punya anak lagi seperti saya. Kadang stok sabar dan energi udah habis duluan untuk ngurusin dua2nya hehe. Selain itu, komunikasi juga berperan penting. Toilet training terasa jauh lebih mudah ketika Raya sudah lebih bisa diajak ngobrol.

Ada satu kejadian yang paling menguji kesabaran kami. Suatu malam, larut malam, Raya masih belum juga tidur. Saya di kamar menidurkan adiknya, sementara bapaknya mengerjakan deadline kantor. Tiba-tiba dia berteriak dari dalam toilet, “Eeee!” katanya. Karena posisi saya yang nanggung, akhirnya dicek Bapaknya. Ternyata…. poo-nya sudah keluar duluan di dalam celana dalam. Hiks hiks hiks. Masih belum seberapa. Ketika akhirnya urusan dia beres, tinggal urusan saya yang “perang” dengan celana dalam yang kotor. Kebetulan lorong menuju kamar mandi sedang mati lampu. Tapi samar masih terlihat bercak-bercak…. kecoklatan.

“Mas… Mas!” panggil saya panik.

“Itu ee’ ya mas?”  saya menunjuk bercak-bercak seperti lukisan abstrak di tembok apartemen sewaan ini.

“Bukan ah,” seperti biasa, suami selalu malas mikir.

“Itu ee’ Maaasss!” huhuhu, akhirnya bisa dipastikan itu memang poo.

“Gimana ceritanya Raya?” mata saya mulai mendelik. Bukan apa-apa, tengah malam, dan adiknya jadi ikut terbangun.

Lalu dengan gestur dan tatapan mata kucingnya, dia mulai menjelaskan. Dipraktekkannya bagaimana dia membuka celana, melihat ada yg salah, lalu meraba bagian belakangnya… Merasa bahwa ada sesuatu yg gak beres, dipeperkannya lah ke tembok  putih bersih. Gusti…. antara emosi dan pingin ketawa!

7. Progress saat ini

Alhamdulillah.. saya bisa bilang kalau Raya sudah lulus TT. Walaupun, ada beberapa kali yg dia bocor/keduluan sedikit. Yah, selama sebulan ini bisa dihitung dengan jari deh. Biasanya sih kalau dia terlalu asik bermain. Begitulah efek samping dari penggunaan diaper, si anak seringkali gak sadar ketika dia pee/poo.

Demikian sedikit share dari saya.. semoga membantu bagi yang membutuhkan! 😉

riana sig

15 thoughts on “The Story of Raya’s Toilet Training

  1. kalau diluar sana mungkin bisa ya ri kita komunikasikan dengan gurunya, sepertinya kalo sekolah di Indonesia belum begitu concern tentang hal sedeteil ini. Cuma diriku saja yang belum dengar atau memang belum ada yah. Mikir kalo punya anak nanti mau juga ajari cara bertahap ini tapi kalau di sekolah tidak mendukung susah juga ya. Kalau dirumah diajarkan non diapers dan di sekolah dipakaikan diapers nanti anaknya jadi bingung ga yah?? hehhehehe. Terlalu banyak pertanyaan dikepala padahal belum ada anak ehehhehehhe

    Like

    • kalo di Indonesia rata2 kan pada mulai sekolah TK ya Wi.. udah pada beres toilet training. eh tapi gue pernah 2x kebobolan pas masih TK hihi.. diurusin sama gurunya kok 😀

      Like

      • iya sih yaaa… tapi guru jaman kita beda banget ama guru jaman sekarang. Perasaan saya saja apa gimana yah hahahhahahha. Sampe sekarang TK aja pake segala ujian masuk. hahahhahaha. keep posting ya ri. berguna banget ini buat saya ya awalnya ga kepikiran jd mikir dan lebih siap gitu ri.. lope lope deh buat riana

        Like

  2. Selamat ya, Raya, akhirnya udah bisa pake panties lucu2 plilihan sendiri.
    Suka deh baca catatan2 perkembangan anak dari ibu Riana… kadang2 suka pengen nulis tapi kok bingung harus mulai dari mana.. hehehe…

    Like

    • trimakasih tanteeeee… aahhhh akhirnyaaaaaa…. hebat deh Alyzza bisa lulus umur 2 tahun. mudah2an nanti Bita lebih cepet dari kakaknya…
      mulai menulis dengan bikin 1 page khusus untuk blog aja hihi.. masih di ridhaskitchen.com tapi ada section khusus selain foodie yang selalu menggoda itu 😉

      Like

      • Klo Alyzza mah bundanya aja yang napsu pengen lepas diaper dari umur 1 thn, tapi baru terlaksana pas dia umur 2.. 😀
        Sebenernya ada 1 blog khusus buat berbagi cerita sehari2 juga cuma jarang di utak-atik.. selalu berpikiran “ini apa penting ditulis di blog?” hahaha..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s