Trip to Italy: Milan, the closing chapter

Alhamdulillah, perjalanan kami ke Milan dari Roma lancar2 aja. Berangkat dengan kereta jam 11 malam, kami sampai jam 7 pagi (dan gak lupa booking seat di kereta tentunya hehe).

Milan menurut kami, gak terlalu banyak spot yang menarik. Unless anda suka belanja barang branded, disinilah surganya. Tempat yang paling terkenal di Milan tentunya Piazza Duomo yang bertetanggaan langsung dengan deretan butik terkenal seperti Prada, Louis Vuitton, Gucci, sampai nama2 perancang antah berantah yang saya baru denger.

Piazza Duomo ini berbeda style-nya dengan basilica-basilica yang lain, jadi menurut saya: worth-to-see. Hanya saja, hati-hati, jangan lupa ini Italy, banyak imigran yang main todong menjajakan barang mereka. Contoh kasus:

Tiba-tiba suami saya diberi segenggam makanan burung yang katanya “free” tapi trus di akhir minta 1 euro. Atau tiba-tiba kita dikerubutin imigran-imgran afrika yang tau-tau maksa makein gelang dari benang ke saya dan suami saya sambil bilang “Free! Free! From Africa! Friend!” tapi terus ujung-ujungnya nagih minta dibayar. Huh, berbekal pengalaman anyep di Roma kemarin, pastinya gak mau ketipu lagi dong. Langsung aja kami bales dengan sewot: “you said it was free, we don’t want to pay for that!”

Beranjak siang, perut mulai laper dan mulai teriak pengen nasi. Untunglah di tempat nginep kami disini, tersedia fasilitas wi-fi. Saya berhasil search makanan halal di situs: zabihah.com dan beberapa saat kemudian kami sudah duduk manis di restoran Usman Doner Kebab sambil menikmati nasi ayam kari.

Menghabiskan 1 hari di Milan, keesokan harinya kami pun kembali ke Gothenburg. Closing chapter di Italy harusnya ditutup dengan sangat manis. Sayangnya sedikit ternoda di bandara Orio el Serio di Bergamo, Milan ketika tas ransel saya dibuka dan tripod di dalamnya di sita.
It is tripod, for taking picture” saya dan suami keukeuh di depan security gak mau masukin tripod di kabin karena mesti bayar lagi.
Yes, but it is forbidden
WHY?”
You know, it can…..” sambil tangannya membentuk gestur seakan-akan tripod itu bisa dipake buat nabokin orang! Nyebelin banget! Dia kata tas sama koper yang orang lain bawa gak bisa dipake buat nabok apa? Lagian kalo tu tripod bisa dipake buat nabokin orang juga udah saya praktekkin dari tadi ke security itu. Huh, ngajakin berantem aja. Mending ganteng kaya polisi yang di Roma.
Ok, please show us the list which stated it is forbidden!”
Well, it is new regulation. The list will be available one hour from now.”
Ya ampyuuuunnn dia bilang new regulation pulak. Karena liat saya pake kerudung dan asal negara kita dari Indonesia jadi langsung bikin aturan baru gitu? Kami berdua langsung mangkel berat dan saya pun langsung paham kenapa 3 kali suami saya dapat beasiswa ke Italy tapi selalu aja ada halangan. Allah memang selalu memberi jalan yang terbaik. And suddenly, we miss Gothenburg even more.

Akhir kata, tripod itu berhasil kami bawa (walaupun harus masuk bagasi). Alhamdulillah gratis meskipun aturannya bayar, hehe.

Sebagai kesimpulan, saya kutip tulisan suami saya di notes facebook-nya.

“Perjalanan ini harusnya mempunyai skor 15 dari skala 1-10. Tapi pada akhirnya ternyata harus turun jadi 9,9”

Arrivederci Italy, mudah-mudahan Allah mengizinkan kami kembali kesana suatu saat nanti.

Berbagi Pengalaman dan Tips di Milan:

  1. Jangan lupa browsing hotel/hostel dulu di internet kalo mau dapet yang murah.
  2. Seperti biasa, untuk transportasi dalam kota belilah tiket harian (tersedia juga 2 harian atau mingguan buat yang mau tinggal lebih lama). Tiket harian harganya 3 Euro sedangkan yang 2 harian 5 Euro.
  3. Spot yang menarik tentu saja Piazza Duomo dan kalo punya kelebihan duit yang sangat banyak bisa sekalian belanja di butik sambil dilanjutin nonton teater di Teater alla Scuola. Saya sih cuma foto-foto aja di depan gedungnya :mrgreen:
  4. Hati-hati di Duomo banyak yang suka maksa jualin dagangannya!
  5. Makanan halal yang saya coba namanya Usman Restaurant and Kebab. Bisa naik trem line 1 (warna merah) turun di Repubblica terus jalan 500 meter.
  6. Happy travelling!

5 thoughts on “Trip to Italy: Milan, the closing chapter

  1. kalau gue yah, tuh polisi gak berprikemanusiaan dan perikeadilan gue tabokin pake tuh tripod, besok jalan kemana lagi neh?????? duh seneng bener bisa jalan-jalan (huaaaaaaaaaa….gue mauuuuuu……..)

    tengkyu udah mampir ke lemari baju gue???? yah iyalah disana gak ada tukang jahit kebaya, ngerti kebaya juga nggak. hahahahahhahahahahha……..

    Like

  2. wah wah bener2 minta ditimpuk itu polisi yaaa!!!

    jadi siga ospek ya ri.. peraturan 1, polisi selalu benar.
    peraturan 2, kalo polisi salah, liat peraturan no 1 😀 hehe

    Like

  3. Hai sist…

    Boleh kasih info gak ???, untuk biaya naik kereta dari Roma ke Milan itu berapa ya ??? n berapa lama perjalanan nya ???

    Thx ya buat info nya

    Salam kenal,

    Mita

    Like

    • hi Mita.. salam kenal juga 🙂

      seinget saya sih, saya dan suami gak pernah membayar tiket kereta lebih dari 60 Euro (untuk 2 orang). kalo gak salah kita ngeluarin sekitar 27 euro per trip. dan kita selalu beli langsung di stasiun, paling cepat H-1. belinya gampang banget, pake ticket machine.
      surprisingly, harganya selalu lebih murah dibanding yg ada di website trenitalia. saya juga gak ngerti, apa karena milihnya salah ya di website-nya? hehe..

      anyway, ini harga 2 tahun yg lalu, jd mungkin ada perubahan sekarang.. kapan rencana travelling ke italy? semoga lancar yaaa dan have fun! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s