Koboi Traveller – Part 1

beberapa hari yang lalu, ditoel sama suami di suatu komen di facebook, “sudah menyiapkan beberapa jalur akrobat untuk mudik 🙂:) siap-siap ya buuuu..”

dan apakah itu jalur akrobat? yang dimaksud adalah jalur ngeteng sodara-sodara, atau istilah inggrisnya: non-connecting mode of transportation heheheh. mungkin bisa diperjelas dengan komentar yang ini:

Kalau saya sama istri sebenernya, alhamdulillah, banyak sekali kesamaan. Salah satunya senang “akrobat” untuk menekan biaya transportasi se-efisien mungkin. Kemarin dulu kita sempat ke Tokyo dengan Aeroflot/maskapai Rusia/ (biar dia bisa ikut acara seminar saya hehe), dan begitu tahu, profesor saya kaget “untung kamu selamet pulang ” hehe. Bisa sampai 50% lebih murah:):) Tapi rasanya dengan krucils, akrobat2 tersebut sudah hampir tidak bisa pak 🙂:) Terakhir summer kemarin ke pulang ke Jakarta CGK (via….BRU, MXP, DXB hehe). walhasil bagasi ketinggalan di Dubai. Pas baliknya lebih parah..bagasi terpencar ketinggalan di Dubai, Milan dan Brusel =)) Alhamdulillah balik semua. Jadi istri sudah ultimatum “enough is enough” hehe, minimal sampai agak besaran kita bisa akrobatan lagi =))

yes, begitulah yang dimaksud dengan jalur akrobat =))

kalo dipikir-pikir, praktek jalur akrobat ala koboi traveller ini sudah dimulai sejak usia pernikahan kami 3 bulan. kalo dulu sih lebih karena impulsive travelling aja, sementara sekarang, well-planned-on-tight-budget-travelling =))

oke, kita mulai nostalgianya.. *sebagai catatan, nama kota yang di bold adalah kota asal dan tujuan sebenernya dalam ber-travelling.

  1. JakartaMerak-Bakauheni-Lampung-Bakauheni-MerakJakarta (Juli 2006)
    sekedar info, waktu itu kami masih pengantin baru, ciyeeeee… iseng aja, pingin weekend-getaway yang deket, tapi kemana ya? akhirnya diputuskan lah kita naik kereta merak ekspress sampe merak, trus balik lagi ke jakarta. begitu sampe merak, yang mana emang kedua insan muda-mudi ini emang gak punya rencana apa-apa disana, akhirnya malah membuat rencana baru: meneruskan perjalanan ke bakauheni dengan kapal cepat =))
    begitu sampe bakauheni, bisa ditebak, akhirnya nekat ngelanjutin naik bus sampe lampung. begitu sampe lampung, kemalaman, gak bawa baju ganti, tapi harus tidur. akhirnya asal nyari hotel dan nginep lah kita semalam di lampung. besoknya, pulang lagi ke jakarta. the end. gak ngapa2in, cuma luntang-lantung dari moda transportasi yang satu ke yang lain =))
    that was impulsive.
    btw, sekarang merak ekspress udah tinggal kenangan T_T. oh ya, total pengeluaran untuk perjalanan kita (termasuk makan, hotel, dan ongkos bajaj dari tanah abang ke gambir), gak sampe 400ribu.

    DSCF1618

    oke, bahkan gak ada foto pemandangannya.. udah ubek2 sealbum, isinya cuma foto narsis berdua hakshakshaks, maklum gejolak kawula muda.. yang satu hampir 26 tahun, yang satu masih 20 tahun 😛

    .

  2. Jakarta-Kuala Lumpur-Perth-Kuala Lumpur-Jakarta (Agustus 2009)
    yang ini gak begitu heboh sih.. cuma memanfaatkan air asia yang (pada saat itu, gak tau sekarang), belum bisa memberlakukan jalur connecting. paling cuma pengalaman gak enak aja pas mau masuk gate penerbangan ke Perth..
    .
    mbak petugas Air Asia KL: *melihat paspor kami yang bersampul ijo burung garuda tanpa memeriksa boarding pass* JAKARTA BUKAN DISINI YEEEEEE..
    kami: maaf yaaaaaa, tolong diperiksa dulu boarding passnya.
    mbak petugas Air Asia KL: oya, masuk.
    kami: *gondok* :/
    .
  3. Göteborg-Stockholm-Moscow-Tokyo-Moscow-Stockholm-Göteborg (Juni 2010)
    ceritanya ini suami lagi ada conference di Tokyo, sementara istrinya pingin ikut… lah, suami sih enak di bayarin, kalo kite kan bayar sendiri =))
    maka dari itu, setelah jungkir balik cari tiket semurah mungkin dari Göteborg, akhirnya disimpulkan bahwa gak ada jalur connecting yang murah. alternatif lain adalah berangkat dari Stockholm via Rusia…. dan naik Aeroflot……. 😀
    dengan kelihaian suami (ceileee), alhamdulillah bagasi kami bisa passtrough dari Göteborg *rayu-rayu mbak yang di Göteborg untuk “memainkan” sistem bagasi supaya bisa konek. sementara pulangnya, karena sudah diprediksi jalur non-connecting ini cuma punya 1 jam transit, maka diputuskan bawaan barang seminimal mungkin karena semua harus masuk kabin.
    banyak cerita unik disini, tapi buat kami yang paling berkesan mungkin urusan menginap.
    .
    Tokyo, sesampainya di hotel:
    suami: saya sudah booking kamar dan bayar untuk 4 hari ke depan berdasarkan invoice yang saya terima.
    receptionist: baik, saya cek sebentar ya.. *cek ini itu cek ini itu, menemukan kejanggalan, telpon sana-sini, lalu menyambung bicara lagi* maaf bapak, ini memang sudah dibooking untuk 4 hari, tapi pembayarannya baru lunas untuk 1 hari saja.
    suami: lhooo, saya dapat discount rate untuk peserta conference kok..
    receptionist: ya betul pak, itu memang discount rate hotel kami untuk 1 hari.
    ………………..
    suami: *bisik-bisik ke istri* pantesaaaan.. aku juga mikir, katanya hotel di jepang mahal. mana ini bintang 5, masa iya 4 hari bayarnya 5 juta,,
    istri: haaaaaa, maksud mas, jadi ini per malamnya 5 JUTA????
    suami: iya, dan 5 juta itu udah harga setelah diskon 50%.
    istri: *pengsan* =))
    singkat cerita, dengan restu dari profesornya suami, akhirnya kami tetap menginap disitu. kata profesornya, “kenapa harus pindah? semua nginap disini kok. udah tenang aja…, kan dibayarin”. alhamdulillah..
    .
    besoknya, kami menerima tamu yang akan mengambil titipan dari kawan di Göteborg.
    *tingnong, bunyi bel kamar dipencet*
    *pintu dibuka*
    tamu: *sambil mulut ternganga lebar* mas ibrahim?
    suami: iya…
    tamu: ……. *meneruskan membuka mulutnya lebar-lebar*
    yahhhh, itulah reaksinya melihat kamar kami. presidential suite. dengan ruang tamu, sofa, dll. sungguh gak akan pernah kebayang bisa nginap disini kalo harus bayar sendiri =))
    .
    begitu acara selesai, kami pun memutuskan untuk singgah ke Nagoya. perjalanan dari Tokyo ditempuh dengan bis malam… artinya, dari kasur empuk presidential suite, kami harus berpindah tidur di dalam bus *maklum, kepepet budget, gak bisa naik shinkansen wkwkwk* alhamdulillah busnya lumayan nyaman lah, walaupun teteeepp yah namanya 7 jam tidur dengan posisi yang sama (btw, namanya Willer Bus)…

    Willer Bus Tokyo-Nagoya

    sayangnya, bus pulangnya gak ada jadwal Willer Bus yang cocok.. alhasil malam berikutnya tidur di bus tapi posisi lempeng… begitu sampe Tokyo pagi-pagi, mau mampir ke apato temen, temennya belum bisa dihubungi… akhirnya kami pun tidur di pinggir jalan di bangku kosong (dengan suami saya yang tetep ngorok everywhere), sambil numpang buang hajat di WC umum sebelahnya.
    .
    itulah kisah kami di Tokyo…
    4 malam tidur di hotel bintang 5…
    2 malam tidur di bus….
    sempet numpang tidur di pinggir jalan sambil nunggu pagi…
    alhamdulillah malam terakhir dikasih nginep di apato sementara yang punyanya memilih ngungsi nonton bola di rumah kawannya..
    .
    ngomong-ngomong, cerita jalur akrobatnya jadi agak menyimpang ya? huehe…. tunggu part 2-nya! =)

2 thoughts on “Koboi Traveller – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s