Lima Hari Mengejar Tempe

Setelah beberapa hari sebelumnya berhasil mengamankan stok makanan halal dalam freezer, maka saya pun penasaran untuk menjajal toko asia di Sevilla. Sebenarnya, minggu sebelumnya saya sudah sempat pergi ke toko tersebut. Apa daya, ternyata kecegat istirahat siesta (tidur siang) karena saya tiba disana jam 14.30 sementara jam 14.00-17.00 mereka tutup. Hadaaaahh… Padahal gak semua toko menerapkan istirahat siesta lho. Kok yaaa, si toko asia itu milih tidur siang daripada melayani saya hiks hiks hiks. Beberapa hari berikutnya, saya pun mencoba menjajal kembali. Tiba di toko  asia jam 12.00 siang, lagi-lagi pintu teralis besi yang saya temui. Ternyata hari minggu dia gak buka saudara-saudara, huhuhuhu..

Ok, singkat cerita, akhirnya saya pun datang di saat yang tepat. Rasanya berdebar-debar lho, kaya mau ketemu gebetan hahahaha. Tapi karena berasa mau ketemu gebetan itulah, yang malah akhirnya membuat saya patah hati… Kulkas sayuran segar hanya terisi toge dan sawi putih. Alhamdulilah masih ada tahu (dan tahu-nya enak bangett, that is the good thing at least!). Tapi kangkung, bokchoy, dan segala macam sayuran Asia hasilnya nihil.

Saya cari bumbu seperti serai, lengkuas, dan kunyit, gak ada. Cabe juga gak ada. Lirik ke dalam freezernya, ternyata serai, lengkuas, dan cabe nya cuma ada dalam  kondisi beku huhuhu… Kunyit mah wassalam. Tempe? Boro-borooooo… Benar-benar toko Asia paling “menyedihkan” (dalam hal Indonesian-friendly-commodities) yang pernah saya temukan. Dan saya harus berdamai dengan kenyataan ini selama 3 tahun ke depan *nangis guling-guling*. Untuk makanan Jepang dan Korea sih lengkap, tapi saya gak minat.. Tempeeeee… mana tempeeeee ?!?! T_T

Untungnya saya sudah menyiapkan diri dengan amunisi darurat: ragi tempe dari Indonesia! Akhirnya dua bungkus kacang kedelai mentah pun saya bawa pulang dari toko Asia. Tidak perlu menunggu lama, malam itu juga langsung saya praktekkan.

begitu melihat penampakannya, saya bingung… kenapa kacang kedelai bentuknya bulat-bulat gini?

Langkah 1. Rendam kacang kedelai semalaman, sekitar 12 jam, atau sampai kulit arinya bisa dikelupas

IMG_9019

ealah.. ternyata setelah direndam bentuknya berubah jadi lonjong-lonjong hehehe

Langkah 2. Nah, disini tantangannya… Silakan siapkan mental dan fisik anda untuk mengupas kulit ari kacang kedelai sampai bersih… T_T Pantas saya pernah dengar kalau pembuat tempe biasanya mengupas kacang kedelai sambil diinjak-injak supaya cepat dan mudah *gosip banget =))* ternyata memang capeeekk..

Begini cara mengupasnya… Dikucek-kucek sampai kulitnya terkelupas, lalu alirkan air supaya si kulit ari mengambang dan mudah untuk dibuang. Harus bersih lho! Kalau nggak, jamurnya mogok gak mau kerja.
Sumber: disini

Langkah 3. Rebus kacang kedelai yang sudah dikupas sampai cukup empuk, lalu tiriskan. Taruh di tampah yang berlubang-lubang (catatan: tampah harus bersih!), aduk-aduk sampai suam-suam kuku, lalu masukkan ragi dan aduk kembali sampai merata.

Langkah 4. Masukkan kacang dalam plastik tertutup (ini juga harus bersih), tusuk-tusuk permukaan plastik supaya ada udara yang masuk.

Langkah 5. Simpan dalam rak  dengan kondisi yang hangat dan lembab supaya jamur mau tumbuh dan berfermentasi. Tunggu sampai tempe jadi (putih, kokoh, dan kompak). Kalau di Indonesia sih biasanya 24 jam juga sudah jadi.

Nah….. disini trial dan error saya mulai kumat.

Bakal calon tempe saya taruh di atas rak kawat tempat oven, tapi karena suhu di Sevilla sudah mulai dingin, saya menaruh si calon tempe di dekat magic jar dengan asumsi si calon tempe tetap berada dalam situasi yang cukup hangat.

18 jam kemudian…

IMG_9023

tempe saya mulai keringetan tapi belum ada tanda-tanda jamur tumbuh 😦

Karena mulai gelisah, saya tumpangkan lah si rak di atas magic jar sekalian…. yang mana berakibat buruk karena si calon tempe malah on-off terkena suhu hangatnya. Ya iyalah, kan tiap mau makan pasti si magic jar itu bakal dibuka sehingga secara otomatis si calon tempe harus disingkirkan dulu dari pertapaannya. Hadeh… jamurnya kayanya jadi bingung antara mau tumbuh atau enggak…

Besoknya, akhirnya dia saya kembalikan ke tempat asal, di sisi magic jar. Pikir saya, kondisinya tidak terlalu dingin tapi bisa tetap stabil suhunya. Tapi ternyata…. TETOOOTT!! Saya lupa kalau meja dapur saya disini terbuat dari granit. Jadi si calon tempe ini meskipun pinggirannya hangat karena ada magic jar, tapi bawahnya dingin karena raknya didudukkan tepat di atas granit, huhuhu… 😥

Duh, semalaman saya pun mikir, gimana caranya ya biar si tempe ini  selamet. Biar dikit yang penting ada deh yang bisa dimakan… Anak-anak sudah tidur lama, tiba-tiba datanglah ilham untuk membuat habitat jamur tempe yang bagus, aman, dan sentausa! Saya taruh rak kawat di dalam kardus bekas. Sebelum saya tutup kardusnya, saya tempatkan lampu duduk/lampu meja (yang kepalanya saya buka) supaya kondisi tetap hangat. Voilaaaa! Berpelukaaaannnn =))

IMG_9057

senangnya bisa menciptakan habitat tempe sendiri! 😀

Hanya saja….. karena keseringan diutak-utik, tempe saya ternyata tidak bisa jadi sempurna. Tapi lumayan lah, sepiring bisa disajikan untuk makan malam.

Akhir kata, butuh 5 hari untuk bisa mendapatkan tempe yang saya idam-idamkan… Sementara menghabiskannya, hanya butuh 5 menit huhuhuhu… Sungguh, benar-benar lega rasanya ketika mendapati (sebagian) tempe saya jadi! Ternyata menunggu tempe jadi itu rasanya mirip-mirip seperti menunggu bayi yang mau lahir! 😆

IMG_9300

IMG_9301

nih, lihat tempe saya… waaaaaaaa, seksi kan? =))

IMG_9304

subhanallah.. rasanya guriiiihhh.. uenak bangeeett. gak bohong, gak lebay. ternyata tempe homemade jauh lebih enak daripada tempe beli jadi.
meskipun kalau boleh memilih, saya sih kepinginnya beli aja daripada harus buat kaya begini terus =))

Oya, ragi tempe yang saya pakai merk Raprima, bisa diintip lebih detail di sini! 😉

26 thoughts on “Lima Hari Mengejar Tempe

  1. keren Riana! surprisingly disini ga ada tempe loh, ibu2 banyak yg bikin sendiri, rajin!! tp suka ada kasus yg jadi pait tempenya, Riana jago ih ga pait, cool! kiss buat two princess

    Like

    • Di Bangkok gak ada, Tan? Biasanya KBRI yg banyak orang Indonesianya suka jualan juga. Disana mah enggak ya?

      Iya ini jangan2 hoki aja ya bisa gak pait hihi. Kiss baacckk :*

      Like

  2. luar biasa perjuanganmu maaakk… jadi naik apresiasiku nih pada tempe yg dg mudah kudapat di mbok2 belanjaan 😉
    dulu saat saya sempat pergi ke negara antah berantah hanya 10 hari saja, begitu pulang lgs masak sambel tempe sepuasnyaaa.. 😀

    Like

    • Makasih maakk, saya jg jadi terharu sama diri saya sendiri wkwkwk.

      Ya mak, ternyata apa yg kita anggap sepele, sebenarnya sulit… kerasa banget buat saya yg di perantauan gini.

      Like

  3. waaahhh keren! jadi tempenya! saya 3x bikin tempe, gagaaaalllll. yg pertama ada bintik2 hitam, itu katanya jamur jahat. nggak jadi deh tempe saya. yang kedua, baunya apek, ga enak, kayak bukan bau tempe. galag maning, gagal maning. yang ketiga, entahlah kenapa, sampe lupa. wkwkkwkwk skrg belum pengen lagi bikin tempe, apalagi udah mulai masuk winter, alamat susah cari kehangatan. 😀 😀 😀

    Like

  4. salam mak, baru pertama berkunjung ke sini, super sekali perjuangannya..jadi ingat waktu saya kuliah di khartoum juga berjuang mendapatkan tempe, harus pesen dulu sama mahasiswa yg bikin itu pun ngak selalu ada pesenannya, tergantung orderan kalau banyak yg di bikin…nice posting.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s