Cerita Haji: Yang Tersisa dari Haramain

Belum sempat menulis pengalaman berhaji kemarin, barangkali ada yang berkenan membaca sudut pandang suami di bawah ini yang ditulis dengan apik 😉

Si Bapak

Awalnya saya sempat berpikir…

“Punya Bapak kok sangat ignorant ” 🙂

 Bukan apa-apa, semasa SMA Bapak saya bahkan tidak akan pernah tahu, misalnya saya kelas 1 A atau C. Atau kemudian ketika kelas 3 saya mengambil jurusan IPA atau IPS 🙂

Jadi jika suatu waktu beliau mendapatkan pertanyaan dari tetangga, misalnya :

“Ibra teng SMA 1 mBlitar niku jurusan nopo Pak Hafid?”

 Pasti bisa saya tebak jawaban Bapak adalah

“Mboh yo!”…Dengan senyum yang khas tanpa merasa bersalah 🙂

Pun kemudian ketika saya melanjutkan kuliah di Jakarta mengambil S1, S2 dan kemudian melanjutkan pendidikan saya ke Swedia selama 5 tahun. Tidak pernah satu kali pun Bapak saya bertanya:

“Disertasi mu sampai mana?” atau

“Topik penelitianmu tentang apa?”..

Nunca! Never! 🙂

Satu-satunya pertanyaan yang Beliau tanyakan kepada saya ketika awal berada di luar negeri (LN) adalah:

“Le… kiro-kiro munggah kaji ko Swedia kono luweh gampang opo ora?” –apakah lebih mudah naik haji dari Swedia?

Begitu saya menjawab :

Nggih Pak, jauh lebih mudah berangkat haji dari LN daripada di Indonesia..”

Sejak saat itulah, setiap saya menelpon ke orang tua atau pulang kampung ke Blitar, pertanyaan yang selalu beliau ulang-ulang adalah:

“Kapan kamu berangkat haji??” 🙂

Lebih dari jenis pertanyaan apapun; tentang keluarga, misalnya, apalagi “hanya sekedar” tentang pendidikan dan pekerjaan.

Ketika saya refleksi (bukan berarti cara parenting seperti tersebut akan saya adopsi ke anak-anak saya 🙂 ), saya berpikir setidaknya ada dua hal: (i) Jangan terlalu kalut dengan urusan dunia…dan yang lebih penting (ii) cepat atau lambat, haji adalah sebuah kewajiban! Kalau memang kita sanggup dan memiliki kesempatan ya harus disegerakan..

Pun selalu ada alasan dari saya untuk mengatakan: tidak atau belum (siap berangkat haji), meskipun 95% saya selalu menjawab jujur sesuai dengan kondisi saya saat itu, mulai (i) tabungan yang belum cukup, (ii) jadwal haji yang bertepatan dengan ujian, (iii) jatah cuti yang terbatas, (iv) anak-anak yang masih terlalu kecil masih butuh ASI, dan sebagainya..

Apa yang paling saya khawatirkan?

Dari sisi saya, sebenarnya sempat muncul satu kekhawatiran (mungkin kombinasi antara takut atau sombong..): Setiap orang yang pulang dari haji selalu merasa perjalanan hajinya sangat spesial, sangat personal dan penuh dengan hubungan “rahasia” dengan Rabb-nya…

Nah itu yang kemudian menjadi sedikit sumber gejolak dalam pikiran saya..

Saya sangat berterima kasih kepada LPEM FEUI, tempat saya bekerja sebelum mengambil S3 di Swedia, yang telah “menyekolahkan saya” ke seluruh Indonesia (minimal seluruh pulau utama Indonesia telah saya jejaki) sehingga saya berkenalan dengan manusia dengan segala macam kontras, e.g. sangat kaya dan sangat miskin di bumi Indonesia Raya ini, dan beraneka ragam ras, budaya, suku, kebiasaan, sifat, dan sebagainya…

Saya juga sangat beterima kasih kepada Chalmers yang “menyekolahkan saya” hingga saya menjejak kaki ke 5 benua, meskipun tentu tidak ke semua negara…dari Helsinki di utara hingga Hout Bay, salah satu titik paling selatan di benua Afrika, dari Honolulu hingga Mauritius..

Saya berterima kasih kepada Komisi Eropa yang memungkinkan saya melihat Islam lewat teropong yang mengincar dalam jarak…Melihat Islam dari kaca mata “orang lain” langsung atau tidak langsung…

Dan tentu saja kepada orang tua saya yang memperkenalkan agama sejak dini sehingga walaupun tertatih tatih dan tidak sempurna, saya tetap menjadi seorang Muslim yang (berusaha) selalu konsisten di manapun saya berada..

Kombinasi itu kemudian menimbulkan sedikit kekhawatiran dalam benak saya; dengan sedikit pengalaman menjelajah bumi Allah yang telah saya lakukan:

“Bagaimana kalau perjalanan haji saya tidak begitu spesial?”

Bukan untuk orang lain, tapi terlebih untuk diri saya sendiri?

Saya takut sepulang saya dari Haramain yang tersisa dalam kepala saya adalah :

“Cuman begitu saja lah haji…towaf, sai, wukuf, tidur di tenda, lempar jumrah, potong rambut…SELESAI!!!”

Medinah?

“Tau sendiri kebijakan Arab Saudi seperti apa? Wushh..Hanya bisa sepersekian menit di depan Makam Nabi SAW, bahkan kadang Al Fatihah-pun tidak sempat semuanya terucap”

Masjidil Haram?

“Mega konstruksi yang membingungkan yang kadang kita bisa keluar gak bisa masuk dan atau sebaliknya”

Towaf?

“Uyel-uyelan gak karu-karuan…Sepertinya semua orang tidak bisa hidup tertib!”

Mekkah?

“Puanas dengan transportasi umum yang tidak teratur..”

Ketika saya masih kecil dan berkesempatan ikut rombongan ziaroh haji..(di Indonesia bisa sampai beberapa minggu kita mendatangi orang-orang yang baru pulang dari haji untuk meminta barokah doa) saya selalu mendapati cerita yang menakjubkan tentang haji. Mulai dari yang lucu, menyayat, tragis, kadang juga memilukan dan memalukan…

Belakangan saya berpikir:

“Jangan-jangan…Apa mungkin karena sebagian besar jamaah haji Indonesia memang baru pertama kali ke luar negeri sehingga apapun tentang haji menjadi spesial? Tidak ada bandingan dengan negara lain misalnya..(minimal itu yang berlaku di Bapak-Ibu saya..)”

Saya benar-benar takut ibadah haji saya FLAT dan tidak menimbulkan kesan mendalam…

Akhirnya berangkat

Sampai akhirnya tahun ini -berkah suatu rizki yang datang dari jalan yang tidak begitu diduga– kami merasa semuanya sudah siap dan memutuskan untuk berangkat haji.

Hanya sedikit kendala dari istri saya, Riana, yang kebetulan sedang hamil 5 bulan: bagaimana kalau tidak bisa/boleh berangkat karena tidak ada bukti telah mendapatkan vaksinasi miningitis (yang merupakan syarat wajib!), bagaimana kalau boleh berangkat menakar risk di sana dengan jumlah orang yang begitu banyak.

Akhirnya semua keraguan di atas teratasi..alhamdulillah…

Sementara teknis mendaftar haji dilalui dengan relatif mudah: bayar, berangkat!

4350 EUR per orang yang bisa dibayar dengan mengangsur, preferably dilunasi pada hari terakhir di bulan puasa Ramadhan.

Beberapa teman saya bahkan masih bisa mendapatkan kursi setelah berakhir bulan Ramadhan.

Haji dari Spanyol: tidak ada antri, tapi juga tidak ada manasik, tidak ada pelatihan apa-apa..semuanya learning by doing…Di Eropa, atau di negara dengan jumlah Muslim yang terbatas, haji diatur oleh swasta, langsung oleh travel agent yang diberikan akses ke sistem yang dibuat oleh Kementrian Haji Saudi Arabia.

Mungkin satu-satunya ganjalan di titik kritis adalah ketika paspor kami yang tidak terbaca mesin meskipun travel haji kami telah mencobanya selama sepuluh hari. (estocolmo malisimo Kata pemilik travel agent ==> ini paspor (keluaran KBRI) Stockholm ini kok buruk banget!!). Dengan bantuan Ibu Dubes dan KBRI Madrid kami akhirnya mendapatkan paspor baru yang kemudian bisa terbaca..

Anak-anak? Alhamdulillah ada Enin-Engki yang diimpor langsung dari Indonesia, insya allah semuanya aman 🙂

Sedikit kerikil di sana-sini, tapi at the end, Alhamdulillah semuanya terlampaui dan kami berangkat!

Perlengkapan perang, gelang identifikasi (dari platik dan kain, tidak seindah jamaah Indonesia) buku panduan dan name tag

Di Lapangan

Agak sedikit mudah ditebak cerita selanjutnya….

Ibadah haji memang luar biasa! Kelewat luar biasa tepatnya..

Pengembaraan saya di bumi Allah yang lain (yang memang tidak seberapa) terasa begitu kecil dan papa dibandingkan dengan pesona dan sensasi haji sejak menapakkan kaki pertama di Jeddah …hingga meninggalkan Arab Saudi lewat Medinah.

Rasanya setiap titik waktu..setiap detak jantung, setiap hembusan nafas… Selalu ada hal yang luar biasa yang bisa saya ceritakan detik demi detik, jam demi jam bergulir

Berangkat haji dari manapun tentu tidak mengurangi tingkat kenikmatan. Tapi mungkin saya mendapati sensasi yang sedikit berbeda berada dalam rombongan haji dari Spanyol dalam maktab yang berbagi dengan negara-negara lain..Satu maktab yang mungkin kalau di Indonesia hanya untuk beberapa kabupaten/kota, pada tempat saya diisi oleh beberapa negara sekaligus. Minimal, misalnya ketika berada di Mina, yang berdekatan tenda dengan kami adalah: jamaah dari Finland, France, the US, the UK, Australia, Swedia-Denmark dan Spanyol tentunya…Berada agak jauh berseberangan ada Italia dan Rusia dan beberapa negara Eropa lain, kemudian satu blok besar Turki. Sedikit menyeberang rumah sakit Mina, sudah masuk Blok Indonesia (Kloter SOC/Solo nomor sekian dan sekian).

Tenda kami (Spanyol-Gibraltar-kiri) pada banyak kesempatan selalu berhadapan dengan tenda Perancis (kanan). Selalu kagum dengan kabilah Perancis dengan anak-anak muda yang luar biasa ghirrahnya..

Towaf

Akhirnya, apapun tentang haji menjadi hal yang sangat luar biasa! Saya yakin sebagaimana semua jamaah haji lain, berkeliling Ka’bah ketika towaf, sambil memandanginya menimbulkan suasana haru..

“Ohhh ini tho..yang setiap 5 waktu kepala menghadap..Arah yang dituju dalam kondisi apapun dan bagaimanapun

Teringat roda kehidupan ketika harus melakukan sholat sambli terhimpit waktu dan tempat, sholat di trotoar, di perpustakaan, di airport, di ruang rapat, toilet, kamar mandi, di terminal bis. Dan arah ke kotak hitam inilah yang disyariatkan Allah pada kita untuk mengahadap…Sementara sekarang kami bisa berada begitu dekat bahkan tidak ada sekat dan jarak yang membatasi…”

Juga tentunya sensasi saat bisa menyentuhnya di rukun Yamani sembari berdoa:

“Ya allah semoga kami dan seluruh keturunan kami akan terus istiqomah menghadap Ka’bah-Mu…”

Dari rangakaian umrah-haji (wajib) maupun umrah sunnah, towaf adalah bagian utama yang menurut saya seharusnya menggambarkan balancing antara hablum minan nas dan hablum mina Allah.

Siapaun jamaah haji tentu menginginkan sunnah-sunnah selama towaf: mencium hajar aswad, berdoa di maqom Ibrahim dan di Hijr Ismail, berdoa di rukun Yamani atau secara umum bertowaf sedekat mungkin dengan Ka’bah..

Sayangnya mungkin semua jamaah haji, termasuk saya tentunya, harus diingatkan bahwa karena hukum scarcity (keterbatasan) kenikmatan hablum mina Allah yang tercapai kadang at the cost of ketidaknyamanan jamaah haji lain. Misalnya, banyak orang (termasuk saya) setelah muhasabah dengan bekas air mata yang masih sangat nampak, sekonyong-konyong keluar dari rukun Yamani atau hijr Ismail atau hajar aswad sambil memotong antrian towaf dengan gerakan horizontal, saya menyebutnya commet movement 😀

Atau sebaliknya, jamaah yang baru mulai putaran pertama towaf tapi sudah memaksa diri menempel ke orbital paling dalam dekat ka’bah, sekali lagi dengan gerakan horizontal.. Tidak hanya merepotkan, gerakan horizontal itu juga sangat membahayakan jika dilakukan beberapa orang pada saat yang sama (berentengan) karena akan memblok putaran antrian towaf..

Siapa yang melakukan itu? Semua orang dari serangkaian ras, suku bangsa, jenis kelamin dan usia.

Mungkin seharusnya rule of thumb nya adalah: kenikmatan hubungan vertical tidak boleh merepotkan orang lain. Jika pada putaran ke-4 kita belum sampai orbit paling dekat dengan Ka’bah, bukannya lebih dalam, seharusnya kita harus mulai ambil ancang-ancang untuk mengambil orbit terluar sehingga ketika menyelesaikan towaf kita memang sudah berada di orbit terluar setelah selesai 7 putaran.

Tapi, di lain sisi, justru dalam towaf itulah refleksi dari realita hidup bisa kita rasakan, berbagai macam sifat manusia dalam kehidupan nyata, disitulah sabar-ikhlas dan syukur bisa dilatih..Insya Allah..

Bismillahi wa Allahu Akbar, sambil melambaikan tangan ke pintu Ka’bah, towaf pun dimulai..

Mina

Walaupun telah tinggal di Eropa selama hampir delapan tahun, rasanya masih tidak percaya bahwa ketika bertemu siapapun dari ras dan suku apapun di maktab, ucapan yang paling tepat ketika menyapa adalah “Assalamulaikum” dan bukan “Hola”, “hello, atau “hej”.

Atau ketika berpisah dengan mereka ucapan yang tepat adalah “Assalamualaikum” atau “Maas Salamah” dan bukannya “Bye”, “Hasta luego” atau “Hej da”..

Sejak menjejakkan kaki ke Mekkah dan kemudian Medinah: 100.00 % orang yang kita temui adalah Muslim… Dari benua dan belahan bumi manapun dari ras, suku dan warna kulit apapun..!

Begitu banyak jenis manusia dengan aneka ragam sifat nya bisa kita temukan. Dan karena pada saat stage haji ini semua jamaah hanya menggunakan kain ihrom-sebelum jumrah aqobah, kita bisa melihat manusia yang berbeda-beda baik dari sisi “fenotif” dan genotif”nya..

Misalnya, bagaimana mereka menyikapi cuaca yang tiba-tiba sangat panas, AC yang tiba-tiba mati..Antrian kamar mandi dan toilet yang sangat panjang (dengan setiap jamaah memiliki kadar sensitifitas yang berbeda-beda) dan sebagainya..

Pun telinga saya masih agak sedikit merasa aneh ketika awal berada di Mina mendengarkan seorang remaja sedikit berteriak kepada kawannya:

“Taylor, come here..here is vacant!”

Dan Taylor, yang dimaksud, dengan posturnya yang tinggi-gempal dan badan yang sebagian ber-tato dalam balutan kain ihrom segera menuju tempat wudu yang kosong tersebut…Dua orang remaja Australia mungkin berusia 20an akhir atau 30an awal..

Di situlah hati dilatih untuk selalu berkhusnudzon...Siapalah kita yang hina ini berhak menjudge orang lain..Hal yang seharusnya juga selalu kita bawa selepas haji dan pulang kembali ke tanah air..

Maktab Eropa, Australia dan Amerika Serikat

Tenda kami di Mina, kalung hijau adalah kabilah Spanyol, kalung merah adalah kabilah Gibraltar

Arofah

Tentu saja sensasi ketika di padang Arafah ketika melakukan wuquf adalah salah satu yang paling luar biasa…

SATU-SATUNYA stage dalam ibadah haji yang dilakukan pada waktu dan jam yang sama untuk semua jamaah…Senja itu, helicopter meraung-raung di atas padang Arofah, dan ambulan hilir mudik, keduanya untuk membawa jamaah yang sedang sakit yang harus tetap berada di Arafah sebagai bagain dari stage haji (wuquf) yang tidak bisa diwakilkan…

Dan di denting waktu ini saya paling tersayat membaca salah satu bagian doa wukuf..

“Dhojjat ilaikal aswatu bisunufil lughot yas alunaka al khajat wa khajati an la tansaani fid daaril balaai idz nasiyani ahlud dunya…”

Gemuruhlah suara-suara aduan kepada engkau dalam aneka ragam bahasa..Mereka memohon kepadamu berbagai keperluan..dan keperluanku..Ya Allah kiranya Engkau tidak melupakanku di tempat tujuan kita tempat tujuan penduduk dunia melupakanku…

Ya Allah…Terasa nelongso sekali tapi memang begitulah adanya…

Ketika detik demi detik waktu merambat menjelang senja, semua orang berhamburan keluar tenda dari segala warna kulit, ras dan suku apapun…2 jutaan- orang di bagian lain di seluruh Padang Arafah secara bersama-sama berdoa di salah satu waktu yang paling mustajabah…

Arafat starts here…Inti dari segala ibadah haji: WUQUF DI PADANG ARAFAH..

Bagaimana rasanya melihat orang dari berbagai suku bangsa dan ras, melakukan hal yang sama, pada detik yang sama, sambil berdiri, sambil duduk, di bawah pohon, di pinggir jalan, di dalam tenda…SEMUA menengadahkan tangan. WUQUF di padang Arafah..

Dan ketika senja yang paling mustajabah itu…akhirnya berlalu. Tanpa kepastian, kapan kira-kira kami akan dipanggilNya kembali, atau akankah kami dipanggil kembali?

Madinah

Tidak ada satu pun aktifitas yang kita lakukan di Madinah berhubungan dengan rangkaian ibadah haji..Tapi tentu siapa yang tidak akan terkesima dengan pesona Madinah, rumah dari Rasulullah SAW.

Bagi saya, semua tentang Madinah adalah indah, damai, dan menusuk relung kalbu..

Masjid Nabawi yang begitu luar biasa dalam banyak hal (menurut saya jauh lebih users friendly), juga terasa pas dari sisi kapasitas (“hanya”” satu juta orang), pintu-pintu yang bernomor dari 1 hingga 37. (Kalau tidak salah) 1-5 menuju Green Dome atau Mesjid Nabawi pada bentuk aslinya yang tak lain adalah makam Nabi SAW (Abu Bakar dan Umar RA), Raudatul Jannah (Raudah) dan sekitarnya.

Relevan untuk kami, pintu 17 adalah pintu mengarah hotel kami, pintu 21 adalah restoran Indonesia :), dan yang lebih penting pintu 37 menuju Makam Baqi tempat Khalifah Usman bin Affan RA dan para syuhada dari Perang Badar dan Uhud dikuburkan.

Semua tentang Madinah adalah Syahdu, bayangan ketika memasuki Bab-As-Salam, suatu lorong menuju Makam Nabi hingga kita bisa sangat dekat dengan Beliau. Meskipun kita tidak bisa berlama-lama di dalamnya, kita bisa membaca segala macam sholawat: diba, nariyah, atau segala doa sejak pertama melangkahkan kaki di Bab As Salam, tidak perlu menunggu sampai benar-benar berada di depan maqam….

Siapa yang tidak terhanyut dengan sholawat Nariyah:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau..

Sambil mata menatab dan menghatur ke makam baginda Rasulullah SAW…

Raudah (Taman Surga) yang tiada doa tertolak di dalamnya, hamparan karpet hijau di antara mimbar Nabi dan rumahnya…Ahhh, kalau kita menoleh ke sisi kiri di Raudah, di situlah saat-saat terakhir seorang manusia paling mulia di muka bumi ini menyusur sakaratul maut dengan menyebut “Ummati…Ummati…”

Beliau mengingat kita..bahkan sejak sebelum kita ada!

Dan sekarang kami berduyun-duyun mengunjunginya sekali lagi dari segala latar belakang, ras, usia dan suku bangsa…

Bagi saya Madinah adalah absen diri..

Seorang hina seperti saya yang tidak ada apa-apanya bainas samaai wal ard antara langit dan bumi dibandingkan dengan umat-umat jaman dahulu, manusia-manusia pilihan yang berada di makam Baqi, misalnya. Bagaimana mungkin saya bisa lepas dari azab neraka dan kerumitan di hari kebangkitan kalau tanpa syafaat Rasulullah…

Biarlah karpet-karpet Raudah dan lantai Bab-As-Salam menjadi saksi…

“Tidak ada itikad apapun bagi kami mengunjungimu Ya Muhammad, hanya benar-benar mengharap Ridho dan syafaatMu kelak di hari kebangkitan. Kami bisa berada dalam golonganmu sunguhpun kelak berada di shaf paling belakang..”

Sholla Allahu ala Muhammad!

Makam tempat manusia paling sempurna, Rasulullah SAW..Kepadanya kami menyeret langkah, merangkak, dan segala cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh syafaatnya..

Dari dalam, dari luar, mesjid Nabawi selalu mempesona

Usia dan Haji..

Akhirnya kembali ke pertanyaan Bapak saya, kemudian saya bisa memahami mengapa Beliau selalu me-ngoprak-ngoprak saya untuk segera berangkat haji…

“Ndang kaji-o mumpung awakmu isik enom..mumpung duwe kesempatan”-segeralah berhaji selagi kamu masih muda..

Ternyata haji itu adalah ibadah yang sangat demanding, baik secara fisik dan terlebih mental..

Dengan mata saya sendiri, selama ibadah haji saya mendapati tiga orang syahid dan syahidah. Satu orang wanita di depan Masjidil Haram dalam cuaca yang sangat panas (sebagai alumni penduduk Sevilla yang musim panasnya bisa mencapai 53 derajat Celcius, saya masih merasa panasnya Mekkah sangat berbeda, jauh lebih menyengat. Apalagi jika kita ter-ekspose terlalu lama di luar), satu orang wanita ketika melakukan Jumrah Aqobah (sama hari dengan tragedi Mina namun dengan sebab yang lain), satu orang kakek juga pada saat Jumrah Aqobah karena jatuh dari jembatan hanya sekian detik sebelum seorang jamaah lain hampir berhasil menangkap tangannya…Semuanya syahid Insya Allah..

Sepanjang perjalanan ke Jamarat, tidak terhitung berapa orang collapse di pinggir trotoar, pingsan, kehabisan bekal minum, kepanasan dsb. Benar-benar tak terhitung. Menyalahkan pemerintah Saudi adalah hal yang paling mudah dilakukan, namun rasanya mereka juga sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa lakukan meskipun perbaikan di sana-sini masih diperlukan..

Secara psikis dan mental, beberapa orang yang mendapatkan kesempatan berhaji di usia agak senja, mungkin juga memiliki “tantangan tersendiri”. Saya khaqqul yakin seorang jamaah dalam rombongan kami adalah seorang yang aalim. Sepanjang jalan dalam perjalanan bis antara Seville dan Madrid tak henti-henti beliau menderas Al Qurán..Barangkali beliau adalah khafidz..

Namun siapa tah yang bisa mengalahkan usia? Usia adalah irreversible.

Dalam waktu ketika semua orang sudah berihrom, beliau masih memakai kopyah, atau berihrom tapi dengan kaos singlet di dalam..Ketika yang lain sudah tahalul, beliau malah memakai baju ihrom dsb…Seringkali terbolak-balik yang sehingga selalu membutuhkan arahan dari jamaah lain atau pemimpin regu, meskipun saya yakin, ketika muda, atau bahkan pada saat sekarangpun beliau adalah orang yang alim.

Bagaimana dengan de-touring masjidil haram? Masjidil haram adalah mega infrastruktur yang jalan masuk dan keluar saja perlu effort terutama di masa konstruksi seperti sekarang. Bisa jadi ketika kita datang semua pintu masjid telah tertutup, kecuali yang berada jauh di belakang di sisi yang lain dari Clock tower.

Berjalan menyusur Masjidil Haram –jika pintu utama sudah tertutup dan harus masuk dari pintu belakang, terutama ketika mengejar jamaah dhuhur yang panas terik, adalah salah satu tantangan! Masjid Haram pada full capacity menampung kurang lebih 4 juta orang! Bisa dibayangkan jarak mengelilinginya dengan pintu-pintu yang bahkan untuk saya (yang relatif tidak/belum tua) sering kali tersesat..

Berkompromi dengan organ pribadi juga hal lain…Kenikmatan berada di Haramain akan berubah seketika ketika beser datang. Terselip kebutuhan untuk ke toilet, berarti kita harus mengulang lagi mulai dari awal. Semua toilet di Haramain (terutama di Masjidil Haram Mekkah) terletak jauh dari mesjid; menerjang ribuan orang, sehingga sedikit sekali kesempatan kita akan bisa kembali ke tempat yang sama atau bahkan sekedar masuk mesjid setelah selesai istinja/bersuci..

At the end Allah SWT adalah sebaik baik pembalas dan yang paling tahu yang ada di hati kita..bahkan hal-hal yang kita sendiri tidak tahu..Semoga semua yang berangkat saat ini diberikan pahala haji Mabrur..

Dan yang akan berangkat disegerakan, dan semuanya diperkuat niatnya..

Wallahu a’lam bishowab

Sebagai kado penutup, saya berikan oleh-oleh, salah satu foto paling out of the box yang saya dapatkan selama di Mekkah dan Madinah. Kalau ada pertanyaan kira-kira dari embarkasi manakah bapak-ibu di atas? Benar, mereka adalah jamaah haji Indonesia, yang berangkat dari….Kongo!! Dengan visa pekerja Kongo..Ya Robb demikianlah segala cara yang kami lakukan untuk berjumpa denganMu, semoga Engkau ridho…

9 thoughts on “Cerita Haji: Yang Tersisa dari Haramain

  1. Tertawa, merinding, menangis haru, semuanya campur aduk menjadi satu ketika membaca tulisan ini.
    Jazakillah Mbak Riana sudah upload tulisan ini. Sesuatu yg saya tunggu-tunggu 🙂
    Luar biasa ya ibadah haji itu.
    Semoga Mbak Riana dan Pak Ibrahim menjadi haji mabrur, aamiin 🙂

    Like

  2. Huhu, tak terasa air mataku menetes baca ini. Nice post mbak. Dan ga nyana ternyata suaminya orang jatim. Bahasa jawanya itu lho … terasa familiar bgt

    Like

    • Trimakasih berkenan baca ya mbak Nana… Iya mbak, Jatim banget. Kalo saya keturunan Garut tapi udah lahir dan besar di Jakarta *gak ada yang nanya padahal, wkwkwk. Mbak Nana juga Jatim kah? 🙂

      Like

  3. Sy jama’ah dari kloter jks 04, sering mmperhatikan tanda(bendera) dari tiap negara pada setiap jama’ah, dan sy memang sering lihat wajah2 eropa tapi sepertinya ko gak pakai bendera negaranya ya, (gak seprti yg dari turki atau uzbek atau yg lainnya yg dari afrika seperti mali atau sudan) kalo seperti mbak dan suami yg berangkat dari spain pakai tanda(bendera) apa? Apalagi kata mbak disatukan dg jamaah dari australi dan yg lainnya. Thank’s (Oh,ya kloter kami pulang ke tanah air dari jeddah tgl 29 sep 2015)

    Like

    • Jamaah dari Eropa, Australia, dan Amerika memang (sepanjang yang saya lihat) tidak ada yang beratribut Pak.. Paling hanya mengenakan name tag yang dikalungkan atau tas yang bertuliskan nama travel masing2 lalu ada nama negaranya. Cuma memang gak terlalu kelihatan juga… Saya dan suami hanya mengenakan name-tag. Kami satu rombongan dari biro travel hanya sekitar 40 orang. Total se-negara Spanyol sendiri sekitar 200 jamaah.
      Jamaah-jamaah dari Eropa, Amerika, dan Australia ini disatukan di satu maktab (istilah Indonesia-nya) ketika di Mina, Muzdalifah, dan Arafah. Hanya saja masing-masing negara punya tenda sendiri-sendiri. Jadi maktabnya aja yang bareng-bareng.
      Ada beberapa maktab untuk gabungan Eropa, Amerika, dan Australia tapi nggak ada yang satu maktab hanya berisi satu negara aja seperti Indonesia hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s