Bidadari Ketiga…

tahap 3 tgh.jpg

“Lho, kamu sendiri?! Suamimu mana?” kata Bidan yang sedang mengecek saya selepas monitor kontraksi dan detak jantung. Ini tahap perantara sebelum masuk ke prosesi ketiga, di mana akhirnya saya bisa menempati kamar observasi. Saat itu, setelah berjam-jam melewati masa kontraksi, akhirnya bukaan saya naik ke angka 2.

“Suamiku nunggu di luar. Dia harus menjaga 2 anak kami yang lain,” jawab saya di sela-sela ringisan menahan sakit.

“Kamu nggak punya keluarga di sini yang bisa dititipkan?”

Saya menggeleng. Ibu saya terpaksa pulang ke Indonesia 3 minggu sebelumnya.

“Teman?”

Saya menggeleng lagi. Semua kenalan kami di Sevilla, yang memang tidak banyak, tinggal cukup jauh dari rumah.

Si Bidan lalu memandang saya kasihan… Kali ini, bukan saya, tapi dia yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Saya memang baru 3x melahirkan, tapi entah memang kebetulan atau mujarab untuk saya, semua proses active labour yang saya alami selalu diawali dengan “andil” suami 🙂 Sama halnya ketika melahirkan Raya dan Bita *pm me for detail hehe.

Seperti malam itu, keinginan saya rupanya dikabulkan oleh Allah.

Ketidakhadiran Ibu saya yang sebelumnya selalu menemani di saat saya melahirkan, membuat saya memiliki keinginan yang lebih spesifik saat melahirkan di kali ketiga ini.

“Semoga si bayi lahir tidak semaju kakak-kakaknya (supaya saya punya waktu lebih banyak untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah),

dan

semoga si bayi lahir di waktu weekend (supaya kami tidak perlu kebingungan kalau sewaktu-waktu harus menjemput anak yang sedang di sekolah).”

Maka jadilah, hari Jumat malam itu, di 39 w 1 d usia kehamilan saya, saya dan suami pun berdiskusi.

“Do you think this will be the right time, Mas?”

“I do.”

“OK, let’s do it!”

Dan setelahnya. kami pun terlelap… Sampai saya terbangun menjelang subuh karena kontraksi yang sudah terjadi tiap 5-10 menit sekali.

“Mas…. Sepertinya berhasil lagi. Aku mulai kontraksi,” kata saya membangunkan suami. Setengah melompat dari kasur, dia pun langsung sigap membereskan tas, menyiapkan double-stroller, memakaikan kaos kaki dan sepatu Raya juga Bita, lalu mencegat taksi di depan apartemen.

Saat itu, Sabtu, 6 Februari 2016.

Pukul 03.30 dini hari.

Raya yang terkantuk-kantuk membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar Bapaknya berbicara, “The baby will come!“. Sementara Bita, seperti biasa hanya melongo polos hehe 🙂 Saya sendiri? Rasanya masih nyaman-nyaman aja dengan kontraksi ini. Perkiraan saya sih. paling-paling baru bukaan 1.

Taksi pun melaju menuju RS. Formasi tempur kami saat itu sudah lengkap. Raya dan Bita duduk di dalam stroller dengan tas digantungkan di kanan-kirinya. Sementara saya berjalan di sebelahnya.

IMG-20160522-WA0024.jpg

Sebagaimana pengalaman saya ketika melahirkan di Swedia ketika Raya dan Bita, sistem kesehatan di Spanyol juga bisa dibilang hampir sama. Rumah Sakit tempat saya melahirkan, berbeda dengan Puskesmas tempat saya selama ini kontrol kehamilan. Saya cukup menyerahkan kartu kesehatan di meja administrasi, lalu semua riwayat kontrol selama ini pun terlihat di sana. Setelahnya, gelang tanda pasien sudah melingkar manis di pergelangan tangan saya.

Pukul 04.30

Tahap 1.jpg

Kami lalu diarahkan menuju ruang tunggu. Di sana, sudah ada perempuan-perempuan senasib dengan para pengiringnya 😀 Raya dan Bita pun beberapa kali tertidur-bangun selama menunggu ibunya dipanggil.

IMG-20160522-WA0013.jpg

Pukul 05.00

Tahap 2.jpg

Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya tiba giliran saya untuk memasuk ruang screening pertama. Suami saya terpaksa tetap di ruang tunggu karena harus menjaga anak-anak. Saat itu, kontraksi saya sedikit lebih intens. Saya memperkirakan kondisi saat itu masih di bukaan 1.

Apa mau dikata, setelah pemeriksaan dalam oleh bidan, ternyata belum ada bukaan sedikit pun saat itu! Padahal kontraksi datang silih-berganti. Bidan kemudian merujuk saya ke tempat screening yang kedua, untuk memonitor frekuensi kontraksi dan detak jantung bayi.

Pukul 05.30

Tahap 3.jpg

Sudah setengah jam saya terbaring dengan perut yang terpasang alat CTG. Seperti biasa, dari ketiga kehamilan, tidak pernah sekali pun saya mengalami kontraksi yang teratur. Kadang kuat, kadang lemah. Kadang tidak terjadi apa-apa selama 10 menit, kadang hanya berjarak 3 menit sudah kembali kontraksi. Aneh!

Tahap 1

Tiga puluh menit di sana pun berakhir tanpa keputusan apa-apa. Saya lalu kembali ke ruang tunggu.

Pukul 07.00

Nama saya kembali dipanggil. Bidan yang sama memeriksa saya kembali di ruang screening pertama. Dari wajahnya, saya bisa melihat kalau situasi belum terlalu oke.

Tahap 2

“Gimana sekarang, sudah ada bukaan kan?” tanya saya.

Dia hanya menghela napas sambil terlihat berpikir.

“Masak belum ada bukaan juga?” kejar saya. Kontraksi tak juga berhenti, masak iya nggak ada kemajuan 😦

“Yaaa… Kira-kira bukaan setengah lah,” katanya, “Masalahnya mulut rahimmu belum melunak. Masih kaku dan keras,” lanjutnya lagi. “Jadi kamu mau gimana, mau pulang aja sekarang atau nunggu kira-kira 2-3 jam lagi di sini?”

Jangan dibayangkan kalau menunggu itu artinya bisa duduk nyaman di dalam kamar ya… Namanya belum lolos screening, artinya situasi saya belum urgent. Menunggu itu, ya artinya kembali ke ruang tunggu.

Saya bingung. Hal-hal seperti ini sungguh tidak bisa diukur dengan menit.

“Aku tunggu di sini saja,” jawab saya.

“Itu lebih baik, nanti rekanku yang akan melanjutkan ya, karena shift-ku sudah selesai sebentar lagi,” kata si Bidan.

Tahap 1

Akhirnya saya pun kembali ke ruang tunggu, menemui suami dan anak-anak. Sambil menunggu waktu, kami lalu memutuskan untuk sarapan di kafeteria Rumah Sakit.

IMG-20160519-WA0052.jpg

Pukul 10.00

Tak seberapa lama kembali ke ruang tunggu, nama saya dipanggil lagi. Kali ini, bidan baru yang menyambut saya.

Tahap 2

“Belum ada kemajuan,” katanya setelah periksa dalam selesai dilakukan. Lemas saya mendengarnya. Terbayang anak-anak yang sudah menunggu sejak jam 4 pagi di Rumah Sakit, sementara hingga kini belum ada kemajuan juga mengenai adik mereka.

“Jadi menurutmu, aku harus pulang?” tanya saya.

Dia terlihat berdiskusi dengan 2 bidan lainnya.

“Kita monitor lagi kontraksinya ya, kalo menurutku sebaiknya kamu tidak usah pulang. Memang ini terlihat masih lama, tapi ini sudah kehamilan yang ketiga. Bisa saja bayi datang lebih cepat dari yang kita perkirakan,” katanya.

Saya lalu bergegas kembali ke ruang tunggu. “Gimana?” tanya suami saya lagi. “Nggak tahu Mas, belum ada kemajuan… Anak-anak gimana ya Mas, kasihan…,” saya pandangi Raya dan Bita yang masih terdampar di sana. Alhamdulillah, anak-anak shalihah, semuanya tampak tenang meskipun sudah berjam-jam menunggu.

“Kamu tenang aja, anak-anak kan ada aku. Yang penting, kamu yang harus siap,” suami saya mencoba menguatkan. Saya lalu berpamitan, setidaknya selama setengah jam ke depan saya harus kembali diobservasi di ruang monitor kontraksi dan detak jantung.

IMG_20160206_062015.jpg

***

Pukul 10.30

tahap 3 tgh

Bidan di depan saya masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Memangnya kenapa kalau saya sendirian, nggak apa-apa kan?” tanya saya.

“Claro, claro. Tentu saja tidak apa-apa,” jawabnya. Meskipun tak urung, raut kasihan menempel jelas di wajahnya. Beberapa Bidan di koridor terdengar membicarakan saya. Jelas, karena mereka menyebut-nyebut negara asal saya, Indonesia. Sepertinya mereka iba dengan kondisi saya yang tanpa seorang pun mendampingi.

Jubah rumah sakit pun diantarkan ke hadapan saya. Sambil mengganti baju, terdengar derap kaki di balik koridor bersama suara yang saya kenal. “Mas! Mas!” panggil saya. Alhamdulillah, suami saya datang! Tapi… Gimana dengan anak-anak?

Suami saya terlihat mencoba mengkonfirmasi kembali kalau anak-anak tidak boleh masuk. Fix, no children allowed.

“Anak-anak mana, Mas?” tanya saya cemas.

“Barusan aku ajak ke luar, cari taman bermain. Sekarang mereka di ruang tunggu,” jawabnya.

“Aduh, aku khawatir Mas… Kasihan mereka sendirian di sana,” pikiran saya mulai tak tenang.

“Udah nggak apa-apa, insya Allah aman. Sekarang kamu yakin nggak, bisa menghadapi semuanya sendiri?” tanya suami saya lagi.

“Aku… Aku nggak tahu Mas… Bidan-bidan kayaknya kasihan banget lihat aku sendiri… Tapi anak-anak gimana…,”jawab saya bingung. Seketika, terlintas kembali rencana kami yang pernah disusun sebelumnya, “Ah iya Mas! Tolong… tolong telepon Paula… Titipkan sama dia,” kontraksi saya lalu datang lagi. “Paula Mas… Paula!”

Paula adalah salah satu tenaga pengajar di sekolah Bita yang biasa menjadi baby-sitter. Jujurnya, kami tidak mengenal dia sama sekali. Tapi namanya direkomendasikan oleh kepala sekolah Bita yang kami percaya dengan baik.

Sebelum pergi, suami saya memeluk dan mencium saya. Kami berpamitan satu sama lain, berusaha menguatkan dan mengikhlaskan jika bayi ini terlahir tanpa didampingi ayahnya.

IMG-20160519-WA0026

Ketika suami saya kembali ke ruang tunggu, ternyata mereka berdua sedang asyik menggambar di balik kursi… :’)

Pukul 11.00

Tahap 4.jpg

Dan sampailah saya, di tahap terakhir sebelum bisa masuk ke ruang bersalin. Sendiri.

IMG_9318.JPG

Saya menatap ke arah kursi yang seharusnya diduduki oleh pendamping saya, suami saya. I wish he is here… Tapi saya lalu memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Kami sudah sama-sama ikhlas, biar lah jika memang jalannya harus sendiri.

Lalu mulai lah saya, squatting, goyang inul, kuda-kuda, you name it! Semua cara yang bisa membuat bukaan saya semakin besar. I really want to reach the finish line soon!

IMG_9320.JPG

Handphone saya lalu berdering, “Aku WA tapi belum dibalas sama Marta, mama-nya Paula,” kata suara suami di seberang sana. “Ini aku lagi di jalan pulang ke rumah,” tambahnya lagi.

“HAH?? Maksud Mas apa, kok Marta mamanya Paula?” tanya saya bingung.

“Kan katanya hubungi Paula… Aku mau nelepon langsung nggak enak, weekend gini,” jawabnya.

“Ya ALLAH Maaasss! Paula yang ngajar di sekolah Bita itu lho, Mas! Katanya nomer HP-nya udah dikasihkan ke Mas. Bukan Paula temennya Raya!” kata saya gemas di sela-sela kontraksi. Raya memang punya sahabat dekat yang bernama Paula. Menitipkan Raya di sana memang bukan tidak mungkin, bahkan sudah pernah dilakukan. Tapi bagaimana dengan Bita?

Keluarga mereka tidak mengenal Bita. Apalagi Paula sebenarnya anak tunggal, kalau ujug-ujug merepotkan dengan ketambahan Bita pula, rasanya sungkan sekali. Pun mereka memang tidak pernah menawarkan. Saya sangat maklum. Namanya melahirkan kan tidak mengenal waktu, sementara ibunya Paula adalah wanita karier yang cukup sibuk. Paula saja sering dititipkan di tempat neneknya.

“Buruaaaannn, koreksi WA mu ke Marta terus hubungi Paula yang aku maksud!” kata saya.

Kontraksi saya semakin menjadi.

Melilit!

Jika umumnya kelahiran yang kesekian kali lebih “tidak sakit” dibanding yang pertama, ternyata saya tidak termasuk yang demikian.

Apa mungkin karena setiap hari saya berjalan setidaknya 3 km antar jemput anak, hingga tenaga pun terasa melemah?

Atau karena pikiran saya tak bisa sepenuhnya lepas dari Raya dan Bita, dua putri saya yang lain?

Yang jelas rasanya merambat, menjalar hingga tengkuk.

Suami saya kembali menelepon. Ternyata atas kebaikan hati Marta, keluarga Paula dengan senang hati menerima Raya dan Bita untuk dititipkan. Alhamdulillah, Allah menurunkan bantuan-Nya melalui mereka… Ayah Paula bahkan menjemput Raya dan Bita di dekat rumah kami… :’)

Lalu bagaimana dengan Paula yang seharusnya suami saya hubungi? Akhirnya dia berhasil ditelepon, tapi tak mampu berkomunikasi karena kendala bahasa. Betapa semua sudah diatur oleh-Nya!

Pukul 12.30

Ternyata rambatan ke tengkuk itu semakin menjadi. Suhu tubuh saya meninggi. Di sela-sela rasa sakit, saya sempatkan untuk membrowsing: epidural dan efek sampingnya.

Pada 2 kelahiran sebelumnya, tak pernah saya gunakan obat pengurang rasa sakit seperti epidural. Tapi kali ini… 😥

Satu jam setengah sendiri dalam kamar observasi, suami saya pun tiba. Alhamdulillaahi Rabbi, ternyata rezeki si jabang bayi untuk didampingi oleh ayahnya. Tak kuat berkata-kata, saya serahkan hasil browsing dalam HP kepada suami. Kebetulan bidan pun saat itu sedang datang. Sambil menahan sakit, saya utarakan niat saya untuk menggunakan epidural.

“Mas sudah baca?” tanya saya pada suami di sela gelombang kontraksi. Tangannya lalu meraba dahi dan tengkuk saya. Panas. Saya mulai demam. Di bawah sana, Bidan sedang melakukan periksa dalam

“Bukaan ke-4,” kata Bidan.

“Aku terserah kamu aja, pake epidural atau enggak. Pakai juga nggak apa-apa, badanmu mulai panas…,” suami saya mengeluarkan pendapatnya.

“Aku rasa juga begitu, ini masih bukaan 4 dan aku bisa lihat kalau kamu cukup kepayahan,” si Bidan menimpali.

Saya menarik napas panjang, “Epidural,” akhirnya keputusan itu pun saya ambil.

Pukul 13.45

Lembaran kertas tanda persetujuan penggunaan epidural sudah saya baca. Tanda tangan saya pun sudah tercantum di bawahnya.  Sekitar 30 menit setelahnya, epidural selesai dipasang di sela ruas tulang punggung saya. Terhubung dengan pusat syaraf di sumsum tulang belakang.

Aneh, rasa sakit itu tidak sepenuhnya hilang. Meskipun begitu, rasanya beda… Ini rasa sakit yang berbeda.

“Aku… aku masih merasakan sakit,” kata saya pada Bidan.

“Mungkin epiduralnya belum total,” jawabnya. Padahal sudah lebih dari 20 menit, harusnya efek bius sudah sepenuhnya bekerja. “Di bagian mana yang sakit?” tanyanya kemudian.

“Di bawah… Rasanya seperti ditusuk-tusuk… Seperti ada yang menusuk-nusuk,” mendengar jawaban saya, raut wajah si Bidan berubah. Ia segera melakukan periksa dalam dan ketuban saya pun pecah!

“Bukaan sempurna, sudah sempurna,” katanya.

“Sekarang? Sudah bisa?” tanya saya, terkejut. Sejam yang lalu masih bukaan 4, lalu setelah dipasang epidural, mendadak bukaan melompat ke angka 10.

“Coba kamu mengejan,” ujarnya lagi. Sekali mengejan lalu terasa lah ada yang mencoba menerabas keluar dari jalan lahir. Kepalanya sudah terlihat!

Pukul 14.15

Full.jpg

Dengan sigap, tempat tidur saya didorong ke arah ruang bersalin. Suami lalu mengganti bajunya dengan jubah hijau.

Saya pun masih merasakan sakit. Sesuatu yang sungguh saya syukuri 🙂 🙂 🙂 Memang kontraksinya tak lagi terasa, tapi jalan lahir saya tak sepenuhnya mati rasa… Jika sejam sebelumnya seluruh tubuh terkuras untuk mengatasi rasa sakit, kali ini tenaga saya mulai terisi kembali. Saya siap sepenuhnya!

Tiga orang Bidan muda yang cantik sudah menunggu di dalam ruangan. Lalu mulai lah dorongan ke-1, ke-2, dan ke-3, hingga bidadari kami yang ketiga keluar di dorongannya yang ke-4. Alhamdulillaah!

IMG_20160207_114321

Bidadari Berilmu dari Sevilla. Lahir hari Sabtu, 6 Februari 2016 pukul 14.45

Ini lah putri ketiga kami, Alma, yang pada namanya kami sematkan banyak doa. Sungguh nikmat Allah yang luar biasa!

Sejurus kemudian, datang lah pesan balasan dari Marta atas kabar kelahiran Alma. Puluhan foto ia kirimkan pada kami. Tenang rasanya melihat Raya dan Bita ada dalam pengawasan mereka… Ternyata mereka membawa anak-anak ke tempat nenek Paula, diajak ke restoran, hingga ke kedai es krim lengkap bersama keluarga besarnya. Bita pun terlihat tak canggung digandeng tangan oleh sang nenek, padahal mereka baru saja bertemu hari itu. Rasa haru menyeruak… Alhamdulillah ‘alaa kulli haal! Allah lah Maha Pembuat Skenario terbaik!


Tentang Epidural

Karena ini adalah kali pertama saya menggunakan epidural, maka saya juga ingin sedikit berbagi tentang hal tersebut.

Apa itu Epidural?

h9991523_001

 

Epidural Labour Analgesia -biasa disebut “epidural” saja- adalah teknik pereda nyeri yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestesi lokal di tulang belakang melalui selang kateter yang tetap terpasang hingga persalinan selesai. Dengan epidural, saraf yang memberikan respon nyeri dilumpuhkan sementara, namun ibu tetap sadar, dapat mengalami kontraksi dan dapat melahirkan secara normal.

1. Epidural hanya dilakukan setelah pembukaan mulut rahim 4 hingga 5 cm atau memasuki persalinan fase aktif.

2. Sebelumnya ibu/keluarga menandatangani inform consent atau surat pernyataan setuju dilakukan prosedur epidural serta tidak akan menuntut dokter/rumah sakit jika terjadi efek samping atau komplikasi akibat prosedur ini.

3. Saat dinjeksi, ibu berbaring menyamping dengan tubuh ditekuk seperti udang, guna memudahkan dokter menemukan titik injeksi (*saya duduk membungkuk).

4. Ke lokasi injeksi dokter membubuhkan obat anastesi lokal.

5. Setelah lokasi tersebut terasa kebas, dokter melakukan injeksi epidural dan memasang selang kateter.

6. Sakitkah injeksi epidural? Beda-beda pada setiap ibu tergantung ambang nyeri dan persepsi ibu mengenai rasa sakit. Ada ibu yang merasa tak nyaman saat diinjeksi, tapi ada juga yang hanya merasakan tekanan kuat pada punggung (*saya tidak merasakan sakit, tertutup oleh sakit kontraksi hehe).

7. Efek anastesi dapat mulai dirasakan dalam beberapa menit setelah injeksi, dan terasa sepenuhnya 10-20 menit pascainjeksi.

8. Durasi kerja epidural bertahan 1-2 jam. Jika efek anastesi mulai berkurang, dosis epidural ditambah.

9. Setelah injeksi epidural diberikan dan selang kateter terpasang, ibu tidak boleh bangun atau turun dari ranjang. Saat berbaring, posisi ibu harus selalu menyamping. Detak jantung janin terus dimonitor, sebab terus-menerus berbaring pada satu posisi kadang-kadang bisa memperlambat, bahkan menyetop kemajuan proses persalinan (*saya berbaring biasa, tidak lama karena bukaan langsung lengkap).

10. Umumnya epidural efektif mengurangi rasa sakit persalinan. Namun beberapa ibu mengeluh masih bisa merasakan sakit, dan/atau merasa efek epidural hanya efektif pada satu sisi tubuh, tidak pada kedua sisi (*saya tidak lagi merasakan sakit kontraksi, tapi merasakan sakit di jalan lahir).

11. Jika proses persalinan memanjang hingga beberapa jam dan abdomen ibu kebas sehingga tidak bisa BAK spontan, kepada ibu akan dipasang kateter folley di saluran kemih untuk membantu BAK (*saya bisa langsung berkemih setelah 2 jam melahirkan).

12. Setelah bayi lahir, selang kateter dilepas. Efek anastesi biasanya hilang dalam1-2 jam. Beberapa ibu melaporkan sensasi panas seperti terbakar pada jalan lahir manakala efek obat penghilang nyeri hilang sepenuhnya (*efek epidural hilang setelah 1 jam, tapi saya tidak merasakan hal ini).

(sumber: ayahbunda.co.id)

Apakah demam disebabkan oleh epidural?

Pada kasus saya, demam justru yang mengakibatkan saya untuk mengambil keputusan menggunakan epidural. Setelah epidural terpasang, suhu badan pun berangsur turun.

Apa efek samping yang saya rasakan?

Malam pertama, sulit sekali rasanya untuk bangkit sendiri dari tempat tidur. Apalagi malam itu juga harus dilalui sendiri saja karena suami pulang untuk menjaga anak-anak di rumah. Tapi tidak lama karena keesokan harinya, badan sudah lebih kuat.

Seminggu setelah melahirkan, saya merasakan pegal-pegal di punggung/pinggang belakang. Berdasarkan apa yang saya baca, kemungkinan diakibatkan oleh penggunaan epidural.

***

Kalau ditanya, kesan saya menggunakan epidural, maka saya akan menjawab bahwa itu adalah keputusan saya yang terbaik saat itu. Saya memutuskan berdamai dengan situasi dan kondisi. Ketika demam akhirnya datang, saya tahu saya tidak boleh egois 🙂

Saya cuma bisa bilang, try to know your body. There are, some consequences, jadi pahami betul tingkat urgensinya. Buat saya mungkin lebih gampang, karena saya pernah merasakan 2 kelahiran sebelumnya. Saya bisa membandingkan, hingga akhirnya memutuskan bahwa saya butuh atau tidak.

Pulang ke rumah… Ternyata kondisi masih seperti kapal pecah, kakak-teteh di sekolah, dan tidak ada makanan sama sekali hehe 🙂 Life was not easy with only 5 of us at that time (without tukang nasgor, tukang bakso, mbak cuci, laundry kiloan, dll) but eventually we survived! 🙂

Akhir kata, semangat untuk semua ibu dan calon ibu. We’re rock! 😀

*Sumber gambar: http://www.webmd.com/baby/epidural-placement-for-labor

16 thoughts on “Bidadari Ketiga…

  1. Alhamdulillah…
    Mbak Riana, saya membaca postingan ini sampai tegang dan khawatir terutama ketika Kakak dan Teteh gak ada yg jagain, tapi alhamdulillah rencana Allah indah pada waktunya dan Mbak Riana juga bisa melahirkan dengan lancar.
    Selamat ya Mbak semoga Alma tumbuh menjadi anak yang solehah, Ibu dan bayinya sehat, semua sehat….aamiin
    Gambatte Mbak!!!

    Like

  2. Fiiuuuhh, mbak Riana selalu nulis ceritanya bisa bikin aku tak berkedip hingga kata terakhir. Selamat ya mbak. Sehat2 ya buat mbak Riana dan keluarga!

    Like

  3. Congratulation ya mbak ria….perjuangan melahirkan masing2 ibu itu memang ‘sesuatu’ banget ya mbak.tidaklah heran kalau ganjarannya syurga.wish you 5 all the best in sevilla.big hug and kisses for raya,bitha and little alma from auntie bayu 😍😍

    Like

  4. Cerita’y jleb bgt mb riana….
    Slmt y mb atas klahiran baby alma….
    btw anak sy lhir tgl 7 feb ’16….
    slisih 1 hr sma alma….hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s